Renungan Minggu 29 April 2018


Bacaan I Kis. 9:26-31

Bacaan II Yoh. 15:1-8
Renungan
Bacaan pertama melukiskan gejolak atau hura-hara yang terjadi dalam jemaat Kristen Perdana setelah mendengar kabar tentang pristiwa pertobatan Paulus. Ada yang percaya dan ada yang tidak percaya mendengar bahwa orang kejam seperti Paulus bertobat. Paulus dikenal sebagai murid dari Gamaliel seorang guru yang disegani oleh kaum Farisi. Fanatisme yang ada dalam diri Paulus mendorong dia untuk melakukan tindakan penganiayaan terhadap para pengikut Kristus. Dia mengejar, menganiaya dan mengancam para murid Kristus. Pamornya itu sudah terdengar diantara orang Kristen Perdana. Sehingga tidak heran banyak jemaat Kristen pertama yang tidak percaya begitu saja kabar tentang pertobatan Paulus. Bahkan dia dicap sebagai penganiaya orang kristen.


Ada dua keadaan di sini. Di satu sisi Paulus sudah sungguh bertobat dan ingin diakui oleh jemaat perdana sebagai pengikut Kristus. Di sisi lain jemaat pertama tidak percaya bahwa orang yang menganiaya, mengejar dan hendak membunuh mereka bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Paulus sendiri sadar bahwa masih banyak kesangsian di antara Jemaat Perdana mengenai pristiwa pertobaannya. Karena itu, dia mengambil keputusan yang berani untuk membuktikan pertobatan. Dia mulai mengajar tentang Kristus sebagai Putra Allah yang bangkit di depan umum. Dia juga berani memberi kesaksian tentang Allah yang telah mengubahnya menjadi murid Kristus. Dia terus menunjukan perubahan positif dengan mulai bergabung dan makan bersama para murid Kristus. Dia tidak peduli dengan tatapan sinis dari orang Yahudi maupun dari Jemaat Kristen Perdana yang masih meragukan pertobatannya. Berlahan tapi pasti akhirnya jemaat pertama mengakui Paulus sebagai murid Kristus.
Disadari atau tidak umat Allah yang terkasih, saya berharap kita sadar, bahwa ada cap, stigma atau stempel negatif  yang melekat pada diri kita. Seperti duri dalam daging. Atau kita memberi cap atau stempel  negatif  kepada orang lain, misalnya tukang pukul, tukang gosip, tukang curi, tukang tipu, tukang ganggu, tukang omong banyak, tukang maki dan tukang-tukang negatif lainnya. Cap negatif itu seperti batu  yang jika dilemparkan kepada orang lain atau kita terkena lemparan batu itu akan menyebabkan rasa sakit, marah dan terluka.  Dan bahkan jika sembuh bekasnya terus terbawa seumur hidup.  Cap yang tidak baik justru dapat membuat orang semakin terpuruk dalam lumpur dosa. Dan yang terburuk dan berbahaya adalah kalau ada orang yang bangga dengan cap-cap negatif yang melakat pada dirinya.
Coba kita kembali ke dalam diri dan bertanya bagaimana orang mencap saya? Stigma memang sulit hilang, itu seperti noda tinta hitam pada baju putih. Orang tidak melihat putihnya, tapi orang melihat hitamnya. Padahal noda tersebut hanya sedikit. Butuh perjuangan untuk menghilangkan cap itu, butuh sebuah  perubahan cara hidup yang drastis. Kita harus berani dan mau berubah kearah yang lebih baik. Sikap yang diambil adalah pertobatan. Berbalik dari cara hidup yang menyebabkan munculnya cap atas diri kita kepada cara hidup yang lebih baik. Cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika kita jauh dari Tuhan, seperti ranting anggur yang terpisah dari pokok atau pohon anggur, maka kita akan menjadi kering dan mati. Dan Tuhan sendiri yang berjanji “jika kamu tinggal di dalam aku, hidup sesuai dengan ajaranku, maka mintalah apa saja yang kamu kehendaki, kamu pasti menerimanya.”
Satu bulan yang lalu, ketika saya sedang gembur tanah di kebun. Tiba-tiba datang segerombolan anak dan bertanya, “Pater bagaimana sikap kita berhadapan dengan orang yang baru keluar dari penjara?” Saya pun menjawab, sebenarnya tidak ada yang berhak untuk menghakimi yang lain sebagai pendosa. Karena setiap orang memiliki noda di dalam dirinya. Apa sikap yang baik? Ikutilah contoh hidup Tuhan Yesus yang membangunkan si wanita pendosa dan mengampuninya, bukan melemparinya dengan batu. Lebih baik membangunkan orang yang jatuh dari pada menjatuhkan orang lain serta mendoakan mereka.  Dan Tuhan sendiri yang berjanji “jika kamu tinggal di dalam aku, hidup sesuai dengan ajaranku, maka mintalah apa saja yang kamu kehendaki, kamu pasti menerimanya.”
Suatu kali ada yang datang mengelu dan kemudian bertanya, “bagaimana caranya mengatur atau menyadarkan orang yang keras kepala dalam hidup bersama, meskipun sudah ditegur dinasehati tapi tetap tidak bisa berubah malah tambah ganas?” Saya kemudian menjawab: ditegur tidak bisa, dinasehati juga tidak bisa. Saya kemudian bertanya: sudah pernah berdoa untuk pertobatan orang tersebut? Dia kemudian menjawab “belum pernah”. Saya akhirnya  menjawab “sebagai pelayan gereja kita tidak bisa berkarya hanya dengan mengandalkan kemampuan sendiri yang terbatas”. Kita butuh Tuhan menyempurnahkan pekerjaan kita. Patut dicoba “cobalah berdoalah sungguh-sungguh untuk dia seperti Sta Monika yang berdoa bagi pertobatan St. Agustinus.
by Leon Hambur ****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXV Tahun C (Minggu, 21 September 2025)

Ibadat Sabda Minggu, 09 November 2025

Ibadat Sabda HARI MINGU BIASA XXVIII, 12 Oktober 2025