Sejarah Singkat Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus


Sejerah Berdirinya Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus
I. Pengantar
            Sejarah Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus tidak terlepas dari sejarah panjang masuknya Gereja Katolik di Pulau Timor. Gereja Katolik masuk dan berkarya di Pulau Timor pada tahun 1556 yang dibawa oleh para misionaris Dominikan Portugal. Para misionaris Dominikan menyadari bahwa mereka tidak bisa bekerja sendiri dalam karya pewartaan Injil di tanah misi yang baru ini. Karena itu, mereka mulai mendidik dan menyiapkan guru-guru agama atau katekis yang dipilih dari umat setempat. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya guru-guru agama atau katekis memiliki peran yang sangat penting dalam proses pertumbuhan benih-benih iman katolik di tanah Timor.
Pada tahun 1853 Belanda masuk ke pulau Timor, dan bersamaan dengan itu reksa pastoral Gereja Katolik di tanah Timor diambil alih oleh para misionaris Ordo Serikat Yesus (SJ). Pada tahun 1883 para misionaris SJ mendirikan stasi pertama di Atapupu. Empat tahun kemudiaan, yakni tahun 1886 stasi Lahurus dibuka dan menjadi pusat misi pada waktu itu.
Pada tahun 1913 para misionaris SJ menyerahkan karya misi Gereja Katolik di Timor kepada para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD). Pada tahun itu juga Pulau Timor menjadi bagian dari wilayah Prefektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dengan Mgr. Petrus Noyen, SVD sebagai Prefektur Apostolik. Pada tahun 1918, SVD membuka wilayah karya pewartaan Injil baru di Halilulik[1]. Pada saat itu Paroki Halilulik memiliki lima stasi : Stasi Laktutus, Stasi Webora, Stasi Lebur, Stasi Buitasik dan Stasi Tulatudik. Pada tahun 2003 Stasi Webora menjadi paroki dengan nama pelindung St. Mikhael. Pada tahun 2004 Stasi Laktutus ditingkatkan statusnya menjadi paroki dengan nama pelindung Hati Kudus Yesus. Bapa uskup menyerahkan reksa pastoral Paroki Laktutu kepada OFM (Ordo Fraterum Minorum).
II. Sejarah Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus
Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus (selanjutnya Paroki Laktutus) secara resmi berdiri pada 21 Juli 2004. Gedung gereja pusat paroki berada tepat di kaki buki Laktutus yang berhawa sejuk. Paroki ini mempunyai tiga wilayah stasi, yakni Stasi Laktutus, Stasi Weklalenok, dan Stasi Wekmoutis. Sebelum menjadi paroki, Laktutus merupakan wilayah stasi dari Paroki Roh Kudus Halilulik (selanjutnya Paroki Halilulik) yang waktu itu dilayani oleh para misionaris SVD. Sedangkan wilayah Weklalenok dan Wekmutis belum menjadi stasi, kedua wilayah tersebut hanya disebut kapela Weklalenok dan kapela Wekmutis. Pada hari-hari raya besar seperti Paskah dan Natal, umat Katolik Laktutus harus menempu jarak kurang lebih 18 km untuk mengikuti misa di Gereja Paroki Halilulik. Sedangkan kegiatan doa dan ibadat sabda setiap hari Minggu diadakan di kapela Laktutus yang sederhana. Kapela yang sederhana ini dibangun pada tahun1968 di atas tanah yang diserahkan dengan sukarela oleh Bpk. Emanuel Leki dan Bpk Lambertus Tobu. Kemudian pada 1980 kapela itu dirombak dan dibangun gedung kapela yang permanen.
Para katekis atau guru agama dalam kurun waktu 1920 – 2002 memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan beriman umat Katolik Laktutus. Terdapat tiga katekis yang selalu terkenang dalam memori umat Katolik Laktutus, yakni Bpk Emanuel Leki, Bpk Yoseph Atok, dan Bpk. Alfonsus Bere. Ketiga katekis itu secara khusus dipersiapkan di Halilulik oleh para misionaris SVD untuk mengajar dan mewartakan Injil di wilayah Laktutus. Setiap hari Minggu, jika imam tidak berkunjung ke Laktutus, para katekis inilah yang  memimpin ibadat sabda dan memberikan renungan serta pengajaran iman Katolik dalam bahasa Tetun.
Pada tahun 2002, Stasi Laktutus, Kapela Weklalenok dan Kapela Wekmoutis digabungkan menjadi satu wilayah persiapan paroki atau bakal paroki. Pada 21 Juli 2004, bakal paroki Laktutus diresmikan menjadi paroki oleh Uskup Atambua pada saat itu, yakni Mgr. Anton P. Ratu, SVD. Beliau menyerahkan reksa pastoral paroki yang mengambil nama pelindung “Hati Kudus Yesus” itu kepada Tarekat OFM.
III. Keadaan Masyarakat

A. Tiga Bukit ; Tiga Tungku
Dalam masyarakat Nanaet-Duabesi (selanjutnya Masyarakat Laktutus) angka tiga memiliki arti tersendiri. Terdapat tiga bukit kokoh yang menjulang megah di wilayah ini, yakni bukit Laktutus, bukit Nanaet dan bukit Duabesi. Ketiga Bukit ini merupakan padang rumput yang diselingi oleh hutan (Stepa) yang menampilkan fenomena alam dan pesona keindahan khas pegunungan. Keberadaan ketiga bukit tersebut sangat penting bagi masyarakat setempat. Nama ketiga bukit itu bukan saja melekat pada identitias mereka, yakni masyarakat Nanaet-Duabesi dan umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus, tetapi juga  menjadi sumber spiritual sekaligus sumber kehidupan. Pada masa lalu, sebelum agama Katolik Roma masuk, bertumbuh dan berkembang di tanah Laktutus, ketiga bukit tersebut merupakan  tempat ibadat tradisional (Korban dan Sesajean) para leluhur masyarakat Laktutus, sehingga di sana masih ditemukan altar persembahan dan sisa-sisa tulang hewan kurban. Sumber air minum mereka pun mengalir dari sana. Padang rumput yang mendominasi topografi ketiga bukit ini menjadi tempat yang cocok untuk memelihara sapi, yang menjadi aktivitas utama sebagian besar masyarakat Laktutus.
Selain itu, dalam terminologi masyarakat Laktutus, untuk menyebut relasi mutualis dan tak terpisahkan antara Lembaga Gereja, Adat dan Pemerintah dipakai istilah Tiga Tungku (Lalian Tolu) (Gereja, Adat dan Pemerintah)[3]. Dalam kepercayaan mereka, ketiga tungku itu tidak dapat dipisahkan dalam seluruh aspek hidup bermasyarakat, ketiganya harus Neon Ida Laran Ida;La’a Hamutuk. Lembaga adat bertugas menjaga dan mewariskan tradisi sehat dari leluhur. Gereja bertugas menjaga, mewariskan dan mewartakan iman akan Injil tentang Yesus Kristus serta soko guru moral dan etika. Sedangkan Pemerintah bertugas menjamin penegakan hukum dan moral serta kesejahteraan masyarakat. Karena itu ketiganya harus La’a Hamutuk;Neon Ida Laran Ida. Mereka percaya bahwa jika ketiganya berjalan bersama, saling menjaga dan saling melengkapi, maka masyarakat akan hidup baik dan sejahtera.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2012, 97,4% dari penduduk yang berjumlah 3.657 jiwa di wilayah ini adalah suku bangsa Tetun. Sehingga bahasa pergaulan mereka sehari-hari adalah bahasa Tetun Terik. Secara historis wilayah Laktutus adalah bagian dari wilayah kerajaan Naitimu. Menurut penuturan beberapa orang tua, masyarakat Laktutus terdiri dari dua kelompok suku besar, yakni  Naitimu dan Koba Lima. Kelompok yang pertama adalah suku-suku asli yang sudah menetap di tanah laktutus sebelum tahun 1926. Sedangkan kelompok yang kedua adalah keluarga-keluarga atau suku-suku yang berpindah dari kampung Kewar, Lakmaras, Fatumean dan Dakolo (sekarang masuk dalam wilayah Negara Timor Leste) ke Laktutus pada tahun 1926.
            Kegiatan ekonomi masyarakat Laktutus pada umumnya bertani dan berternak sapi. Berdasarkan data tahun 2012, 42,7% dari penduduk Laktutus yang berusia 15 tahun ke atas yang berjumlah 2.154 adalah petani atau peternak. Sisanya adalah pengusaha (0,3%), guru (1,4%), bidan/perawat/mantra (0,3%), tukang (0,6%) dan pekerja terampil lainnya(0,1%). Karena itu aktivitas hidup mereka bergerak sesuai musim. Pada musim hujan banyak di antara mereka yang berkebun dan mulai membajak sawah. Sedangkan pada musim kemerau mereka mulai menyiapkan kebun untuk ditanam berbagai ubi-ubian dan tanaman lainnya pada musim hujan. Selain itu, orang-orang Laktutus terkenal juga sebagai masayarakat perantau. Dari 3.657 jiwa jumlah penduduk Laktutus, sebanyak 260 jiwa mencari pekerjaan di luar Laktutus. Banyak dari antara mereka yang merantau ke luar daerah, seperti Kalimantan atau Malaysia.
B. Sistem Kepercayaan
             Sebelum Gereja Katolik Masuk di wilayah Laktutus, Mayarakat Laktutus memiliki keyakinan tradisional. Mereka adalah masyarakat Animisme yang  percaya bahwa arwah leluhur mempunyai kekuatan yang menentukan nasib baik dan buruk dari keturunan atau anak-cucu yang masih hidup.  Mereka juga percaya akan adanya satu kekuatan yang mahakuasa dan mahatinggi yang memiliki pengaruh dalam menentukan tujuan hidup seseorang. Nama dari kekuatan itu sering mereka ungkapkan dalam kalimat Nai manas waik Nai Lulik waik.
            Pada tahun 1918 Gereja Katolik masuk ke wilayah Halilulik dan sekitarnya, termasuk wilayah Laktutus. Atas jasa para misionaris SVD dan para katekis awam, Gereja Katolik berkembang pesat di wilayah ini. Walaupun demikian, kepercayaan tradisional masih mempengaruhi alam pemikiran umat Katolik Laktutus. Atau dengan kata lain mereka memiliki kepercayaan yang dualistis. Di satu sisi mereka masih percaya bahwa arwah-arwah dari orang-orang yang telah meninggal memiliki kekuatan super dibandingkan dengan manusia yang masih hidup. Di sisi lain mereka percaya bahwa arwah-arwah itu membutuhkan doa dari para kerabat yang masih hidup agar selamat dan masuk Surga. Selain itu ada beberapa tokoh adat yang menafsirkan bahwa Nai manas Waik Nai Lulik Waik adalah sebutan untuk Allah yang Mahaesa (Nai Maromak) atau Allah Tritunggal dalam ajaran iman Katolik.
            Karena itu, pekerjaan rumah yang harus menjadi prioritas bagi para Fransiskan (OFM) yang berkarya di Laktutus ke depan adalah pemurniaan iman umat.  Berkaitan dengan itu, rambu-rambu inkulturasi yang telah disetujui oleh Gereja dalam Konsili Vatikan II harus menjadi tolok ukur dalam pewartaan iman yang inkulturatif ke depan.
IV. Keadaan Paroki
  • Wilayah Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Nanaet Dubesi. Dengan kata lain wilayah Paroki Laktutus seluas wilayah Kecamatan Nanaet Duabesi yang mencakup empat Desa: Desa Fohoeka (pusat paroki), Desa Nanaenoe, Desa Duabesi dan Desa Nanaet, dan 20 Dusun. Menurut data dari Badan Pertanahan Kab. Belu tahun 2009, luas wilayah Kec. Nanaet Duabesi adalah 60,25 Km2 dengan ketinggian 500 m di atas permukaan laut.
Batas-batas wilayah paroki Hati Kudus Yesus Laktutus[4]:
Ø  Bagian Selatan wilayah Paroki Laktutus berbatasan dengan wilayah Paroki Alas, Desa Alas Utara (Kecamatan Koba Lima) dan Faturika (Kecamatan Raimanuk).
Ø  Bagian Utara berbatasan dengan wilayah Desa Lookeu dan Derokfaturene Kecamatan Tasifeto Barat.
Ø  Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Negara Timor Leste (RDTL).
Ø  Bagian Barat berbatasan dengan Desa Bakustulama dan Naitimu (Kecamatan Tasifeto Barat).
  • -           Jumlah Umat               : 3.657 Jiwa
-                Jumlah KK                  : 1.025 KK
-                Jumlah Stasi                : 3 Stasi
-                Jumlah Lingkungan     : 13 Lingkungan
-                Jumlah KUB               : 42 KUB
  • Pada tahun 2011, Paroki Hati Kudus Yesus Laktus menjadi paroki yang mandiri. Itu berarti Paroki Laktutus sudah mampu mandiri dalam hal keuangan  dan tenaga pastoral.  Sumber keuangan paroki berasal dari kolekte dan derma-derma. Sedang diusahakan ke depan agar Paroki memiliki sumber keuangan lain yang berasal dari kebun dan ternak.    
  • Sarana Pendukung
- 1 Gedung Gereja dan 2 Kapela (Weklalenok dan Wekmutis)
- 1 Pastoran
- 1 Gua Maria: Gua bersejarah Fatu Ki’ik
- 3 Motor (1 milik paroki dan 2 milik OFM)
- 1 Tempat Khusus Untuk Ibadat Jalan Salib : Bukit Kalvari.
  • Organisasi Gereja
-          Legio Maria
-          OMK (Orang Muda Katolik)
-          Kelompok Misdinar
-          THS/THM
-          Ordo Ketiga Fransiskan Sekular
  • Tenaga Pastoral
-          2 Pastor
-          1 Bruder
-          7 Katekis
-          1 Pegawai TU
-          1 Pegawai Kebun
-          1 Pegawai Dapur
  • Potensi Paroki
-          Banyak Katekis dan Guru Agama SD
-          Terdapat 1 SMP (Milik Pemerintah) dan 5 SD (3 Milik Pemerintah dan 2 Milik Yayasan Astanara)
-          Pertaniaan dan Peternakan
V. Para Gembala atau Misionaris Yang Melayani Paroki Laktutus Sejak Masih Bagian Dari Paroki Roh Kudus Halilulik Hingga Sekarang
Berdasarkan buku registrasi permandian Paroki Halilulik dan Paroki Laktutus serta dokumen sejarah Gereja Paroki Halilulik, mulai dari tahun 1918 – 1995 para misionaris SVD berperan sangat penting dalam proses penyebaran dan perkembangan iman Katolik di wilayah Laktutus yang saat itu masih berstatus Stasi (termasuk Kapela Weklalenok dan Kapela Wekmutis) dari Paroki Halilulik. Mulai tahun 1996 – 2004 reksa pastoral Paroki Halilulik diserahkan kepada para imam Diosesan. Pada 21 Juli 2004 Stasi Laktutus menjadi paroki, dan reksa pastoral dipercayakan kepada para misionaris dari OFM. Berikut ini adalah para pastor yang pernah berkarya di Paroki Laktutus, sejak bersatutus sebagai stasi dari Paroki Halilulik hingga sekarang:
  1. Tahun 1920 – 1922     : P. Arnoldus Vestralen, SVD
  2. Tahun 1922 – 1925     :           - P. Hendrikus Leven, SVD,
- P. Yosef Smith, SVD
- Br. Lusian Molken, SVD
      3.   Tahun 1929 – 1931     :  P. Yakobus Peser, SVD
      4.   Tahun 1931 – 1939     :           - P. Yakobus Deburoin, SVD
                                                            - P. Matias Darsbach, SVD
      5.   Tahun 1942 – 1947     : Mgr. Yakobus Pesse, SVD (Uskup dan Pastor Regional)
      6.   Tahun 1947 – 1951     :           - P. Piet Verhaeren, SVD
                                                            - P. Arnoldus Van Lieshout, SVD
                                                            - P. Yosef Duffles, SVD
                                                            - P. Wilibrodus Meunlendiyek, SVD
      7.   Tahun 1952                 :           - P. J. Knoor, SVD
                                                            - P. Hendrikus Samhorst, SVD
      8.   Tahun 1953 – 1954     :           - P. J. Deuling, SVD
                                                            - P. Leon Lewa, SVD
                                                            - P. Yosef Duffles, SVD
                                                            - P. Hendrikus Samhorst, SVD
      9.  Tahun 1954 – 1956      : P. M. Timmernans, SVD      
      10. Tahun 1956 – 1963     :           - P. Theodorus Van Den Tilaart, SVD
                                                            - P. Karsten, SVD
                                                            - P. Hendrikus Samhorst, SVD
                                                            - P. Arnoldus Van Lishout, SVD
      11. Tahun 1963 – 1971     :           - P. M. Timmermans, SVD
                                                            - P. Hendrikus Somhorst, SVD
                                                            - P. Yan Bala Letor, SVD
                                                            - P. Nelisen, SVD
                                                            - P. Yanuarius Oba, SVD
                                                            - P. Wilibrodus Meulendiyk, SVD
       12. Tahun 1971 – 1980    :           - P. Karl Schoelly, SVD
                                                            - P. Anton Beki Kedang, SVD
       13. Tahun 1981 – 1983    :           - P. Yakobus Bura, SVD
                                                            -  P. Yosef Duffles, SVD
         14. Tahun 1983 – 1986  :           - P. Niko Buku, SVD
                                                            - Diakon Makarius Molo, Pr
         15. Tahun 1987 – 1991  :           - P. Alex Magu, SVD    
                                                            - P. Frans Ceunfin, SVD
         16. Tahun 1992              : P. Yohanes Perang Lewar, SVD
         17. Tahun 1992 – 1995  :           - P. Rogers Alasan, SVD
                                                            - P. Vincent Besin, SVD
         18. Tahun 1996 – 1999  :           - Rm. Yohanes Subani, Pr
                                                            - P. Vincent Besin, SVD
         19. Tahun 1999 – 2001  :           - Rm. Hendrik Fay, SVD
                                                            - P. Vincent Besin, SVD
         20. Tahun 2001 – 2004  :           - Rm. Dominikus Atini, Pr
                                                            - Rm. Eman Nurak Hane, Pr
                                                            - Diakon Gregorius Z. Dudi, Pr
                        * Stasi Laktutus menjadi Bakal / Persiapan Paroki
          21. Tahun 2004 -  2006 :           - P. Andreas Hamma, OFM
*Bakal Paroki Laktutus menjadi paroki yang diresmikan oleh Uskup Atambua
Mgr. Antonius P. Ratu, SVD.           
          22. Tahun 2006 – 2007 :           - P. Andreas Hamma, OFM
                                                            - P. Dionisius Kelen, OFM
          23. Tahun 2007 – 2010 :           - P. Antonius Sahat Manurung, OFM
                                                            - P. Saverinus Adir, OFM
                                                            - P. Lazarus Subagi, OFM
          24. Tahun 2010 – 2012 :           - P. Markus Gunadi, OFM
                                                            - Br. Marianus Cua, OFM
          25. Tahun 2012 – 2013 :           - P.Markus Gunadi, OFM
                                                            - P. Leonardus Hambur, OFM
                                                            - Br. Marianus Cua, OFM
           26. Tahun 2014 -          :           - P. Yohanes K. Tara, OFM
                                                            - P. Leonardus Hambur, OFM
                                                            - Br. Marianus Cua, OFM
                       





























Daftar Sumber
Ø  Sumber Lisan
o   Bapak Gaspar Lay (Paroki Roh Kudus Halilulik)
o   Bapak Paulinus Halek (Stasi Laktutus)
o   Bapak Yohanes Lau (Stasi Laktutus)
o   Bapak Yohanes Seran (Stasi Wekmutis)
o   Bapak Hendrikus Mau (Stasi Wekmutis)
o   Bapak Petrus Suri (Stasi Laktutus)
o   Bapak Leonardu Berek (Stasi Weklalenok)
Ø  Buku Babtis Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus I, II dan III Mulai Tahun 1920
Ø  Dokumen Sejerah Gereja Paroki Roh Kudus Halilulik Tahun 2010




[1] Menurut dokumen sejarah berdirinya paroki Roh Kudus Halilulik, pada tahun 1918 Halilulik belum merupakan  paroki, tetapi stasi Santo Odolvus.
[2] Berdasarkan data umat yang diambil pada tahun 2012.
[3] Tiga Tungku (Lalian Tolu) merupakan Term umum yang digunakan di tanah Timor (Belu, Malaka, dan TTU) untuk menggambarkan relasi yang tak terpisahkan antara lembaga Gereja, Adat dan Pemerintah.
[4] Batas-batas ini diambil dari Peta Administrasi Kabupaten Belu tahun 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXV Tahun C (Minggu, 21 September 2025)

Ibadat Sabda Minggu, 09 November 2025

Ibadat Sabda HARI MINGU BIASA XXVIII, 12 Oktober 2025