Susunan Transitus St. Fransiskus Asisi
1. Pengantar
Saudara-saudari
Pencinta St. Fransiskus Asisi yang terkasih,
Hari ini kita semua berkumpul dan bersatu
dalam iman untuk memperingati ‘Transitus’ Sto. Fransiskus Assisi
(1181/1182-1224). Transitus merupakan peristiwa beralihnya jiwa Si Miskin St.
Fransiskus dari Assisi dari dunia yang fana ke Rumah Bapa di Surga penuh
kemuliaan. Hari ini merupakan saat berharga bagi kita untuk merenungkan kembali
pesan akhir dari sang santo sebelum saudari maut menjemputnya, yakni “Aku telah melakukan apa
yang harus kulakukan; semoga Kristus mengajarmu apa yang harus kamu lakukan
selanjutnya” (LegMaj XIV:3).
Pesan ini mengingatkan kita, putra-putri
rohani St. Fransiskus, tentang tugas dan panggilan kita sebagai seorang Kristen
dan Fransiskan sejati. Jika kita berguru pada pribadi Sang Santo maka kita akan
menemukan apa yang menjadi tugas kita, yang terangkum indah dalam tiga puisi
doa yang sering dikumandangkan oleh sang santo: Doa di Depan Salib, Doa Damai
dan Gita Sang Surya. Dalam doa di depan salib, kita belajar tentang kerendahan hati, beriman yang benar, berpengharapan
yang teguh dan kasih yang sempurna; dalam doa damai, kita adalah duta damai di
mana pun, kapan pun dan dalam situasi apa pun; dalam Gita Sang Surya, kita
belajar untuk mencintai seluruh ciptaan Tuhan dan menyebut mereka sebagai
saudara dan saudari.
Karena
itu, peristiwa sore hari ini merupakan peristiwa berahmat. Di sini kita
mengenang kembali peristiwa detik-detik peralihan Santo Fransiskus Asisi dari
dunia ini menuju Surga. Bersamaan dengan itu, kita juga perlu melihat kembali
karya-karya yang telah kita lakukan selama ini, karena mungkin, mengutip
kata-kata akhir sang santo, “ kita belum berbuat apa-apa, mari kita mulai
lagi”. Mari kita merayakan pristiwa transitus sore ini dengan penuh iman.
2. Penyembahan di depan Salib
P : Kami menyembah Engkau ya Tuhan…………………………
U : di sini dan di semua Gereja-Mu yang
ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau sebab engkau telah menebus dunia
dengan Salib-Mu yang suci.
3. Lagu pembuka
4. Tanda Salib
P : Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh
Kudus
U : Amin
3. Doa Pembuka
P : Marilah berdoa
Allah
yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan, St. Fransiskus Asisi Engkau utus untuk
memperbaiki gereja-MU yang mau roboh. Dalam kegersangan iman dan kasih yang
menggerogoti tiang-tiang gereja-MU, hamba-Mu St. Fransiskus Asisi hadir dengan
semangat hidup yang dijiwai oleh semangat kerendahan hati, penuh iman,
pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Puncak dari Pengabdiannya yang
total dalam mengikuti Tuhan Yesus Kristus, Engkau materaikan dengan stigmata yang
mendera tubuh sucinya. Semoga peringatan transitus hari ini, mempertajam hati
dan budi kami agar peka dan mampu melihat tanda-tanda zaman, sehingga karya
pelayanan kami menjawab kebutuhan umat kesayanganmu. Demi Yesus Kristus………………….
4. Riwayat Hidup St. Fransiskus dari Asisi: Masa
Pertobatan (1204 – 1208)
Pada tanggal 12 September 1202 pecah
pertempuran antara Assisi dan Perugia di medan yang terletak antara Collestrada
dan Ponte San Giovanni, sebuah desa kecil yang terletak antara Assisi dan
Perugia. Pasukan Assisi dipimpin oleh Girard dari Gilbert, konsul dari kota
Assisi. Pasukan Assisi menderita kekalahan berat dan Fransiskus turut menjadi
tawanan perang di Ponte San Giovanni. Namun karena harta-kekayaan ayahnya,
Fransiskus tidak dijebloskan ke dalam sel yang diperuntukkan bagi serdadu
biasa, tetapi ditempatkan bersama para kesatria. Fransiskus ditawan hampir satu
tahun lamanya. Selama di penjara (tahun 1202 – 1203) Fransiskus menghibur para
tawanan dan pada umumnya membuat yang terbaik dari suatu situasi yang sulit,
sebuah pola-laku yang akan berulang terus selama hidupnya.
Fransiskus kembali ke Assisi sebelum
tahun 1203 berakhir. Penyakit yang mulai diidapnya di penjara dekat Perugia itu
membutuhkan waktu lama untuk disembuhkan. Oleh karena itu tahun 1204
dijalaninya sambil terbaring di atas tempat tidur. Ketika akhirnya sembuh dari
penyakitnya, dia berjalan-jalan di bukit-bukit Assisi dengan hati sedih, seakan
dunia telah kehilangan kemegahannya. Namun secercah sinar telah menyusup ke
dalam diri Fransiskus. Di sini dia mulai mendengar suara-suara dan melihat
visi-visi yang akan mengubah hidupnya.
Suara pertama terdengar dalam sebuah
mimpi di kota Spoleto di tahun 1205. Pada waktu itu Fransiskus sedang menuju
Apulia untuk bergabung dengan pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Walter dari
Brienne. Cita-citanya untuk menjadi
seorang kesatria memang belum hilang. Dalam mimpinya Fransiskus melihat sebuah
ruangan luas dari sebuah istana yang tembok-temboknya dipenuhi dengan
perisai-perisai. Lalu terdengar suara yang mengatakan bahwa semua perisai itu
milik Fransiskus dan para pengikutnya. Karena salah menafsirkan mimpi itu,
Fransikus siap untuk percaya akan “nubuat” untuk menjadi kesatria yang penuh
kemuliaan, namun tidak lama kemudian dia mendengar suara lain:
“Fransiskus, mana yang lebih baik,
melayani Tuan atau seorang hamba?”
“Oh, Tuan tentunya.”
“Kalau begitu, mengapa engkau
mencoba untuk membuat Tuan-mu menjadi seorang hamba?”
Dan seperti Nabi Samuel (lihat 1 Sam
3:1-10.19), Fransiskus mengenali suara yang sedang berbicara kepadanya itu.
“Tuhan, apa yang kaukehendaki untuk
aku lakukan?”
“Kembalilah ke Assisi. Di sana akan
dinyatakan kepadamu apa yang engkau harus lakukan, dan engkaupun akan mengerti
makna dari visi ini.”
Mulai saat itu Fransiskus mulai
mendengarkan suara Allah, bukan lagi hasrat hatinya sendiri yang tidak sabar
ingin meraih kemuliaan di medan pertempuran. Dia memulai perjalanan kembalinya
yang panjang ke Assisi. Tentunya sebuah perjalanan yang penuh dengan pergumulan
batianiah. Dalam proses perjuangan batin yang diawali oleh sebuah mimpi itu,
Fransiskus menemukan sesuatu yang mengubah inti dasar dari cita-citanya semula
untuk menjadi seorang kesatria. Cita-citanya sekarang menjadi lebih murni dan agung,
namun pada saat yang sama kelihatan bodoh dan penuh paradoks. Hatinya tidak
lagi tertarik pada busana yang indah-mahal, emas, perak atau pesta pora
dengan para sahabatnya yang dulu. Ketertarikannya pada Sang Penebus sejak masa
kecilnya sekarang berkobar-kobar menjadi cinta kasih pribadi kepada Yesus yang
meluap-luap. Inilah kiranya awal dari perjalanan panjang pertobatan Fransiskus.
Ketika ziarah ke Roma pada tahun
1206 Fransiskus saling bertukar pakaian dengan seorang pengemis miskin agar
dapat mengalami secara langsung kemiskinan yang ekstrim, meskipun untuk sesaat
saja. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis, apa yang
dirasakan dalam hati ketika seseorang mengulurkan tangan untuk minta-minta
derma dari orang lain, mohon belas kasihan orang lain. Sepulangnya dari ziarah,
dia berteman dengan mereka yang miskin dan terbuang. Dia memang ingin menjadi
seperti mereka. Dia pun lalu mulai menyibukkan dirinya dengan orang-orang
miskin dan para penderita kusta yang dulu memuakkan dan menjijikkan
baginya. Dalam Wasiat-nya yang jauh kemudian ditulisnya, Fransiskus
mengatakan:“Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk
mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat
orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku
merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya
terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan
sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Was 1-3). Namun
dia belum juga menemukan apa yang diinginkan Tuhan dari dirinya.
Pada saat berdoa di depan salib Kristus di
gereja kecil San Damiano yang sudah rusak dan mau runtuh, Fransiskus mendengar
suara yang datang dari salib Kristus: “Pergilah Fransiskus, perbaikilah
gereja-Ku yang sudah reyot dan mau runtuh ini.” Maka Fransiskus mulai
memperbaiki gereja San Damiano, karena dia berpikir Tuhan Yesus meminta
kepadanya untuk memperbaiki bangunan gedung gereja. Pada akhirnya dia
berhasil memperbaiki tiga gereja, yakni San Damiano, S. Pietro della Spina dan
S. Maria degli Angeli. Begitu mendengar suara dari salib Kristus tadi,
Fransiskus, si anak pedagang kaya di Assisi itu, langsung pulang ke rumahnya.
Diambilnya sejumlah kain dagangan ayahnya, dibawanya semua itu sambil memacu
kudanya ke Foligno. Di kota Foligno dijualnya kain dagangan sekaligus beserta
kudanya, kemudian dia bergegas menuju gereja San Damiano. Dia mempersembahkan
uang hasil penjualannya kepada imam yang menjaga gereja itu. Namun, imam itu menolak
uang yang diberikan Fransiskus. Fransiskus yang kecewa kemudian melemparkan
uang itu ke atas ambang jendela gereja dan berangkat lagi ke Assisi untuk
meminta-minta batu guna memperbaiki gereja Allah. Ini adalah satu lagi titik
balik dalam kehidupan Fransiskus. Seolah-olah terdengar suara dari keheningan:
“Engkau memperbaiki rumah Allah tidak dengan uang, tetapi dengan batu-batu yang
kauperoleh dengan mengemis sambil mengatasi rasa malumu. Dan batu-batu yang
diberikan orang-orang kepada seorang pengemis berubah menjadi Gereja yang
hidup.”
Hening
(Musik instrument)
5. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi: Peraturan Hidup (1208-1223)
Fransiskus mulai dengan segenap ketulusan hati menepati
Injil secara radikal. Dia menetap di sebuah gereja kecil Porziuncola milik para
rahib Benediktin dari Gunung Subasio. Dia berhasil memugar gereja ini pada
tahun ketiga pertobatannya, yakni tahun 1209. Pada hari pesta Rasul S. Matias
tanggal 24 Februari 1209,
setelah Misa selesai, Fransiskus meminta imam membuka kitab Injil sebanyak tiga
kali. Berikut ini adalah bacaan-bacaannya: Jikalau
engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu
kepada orang-orang miskin, … kemudian datanglah kemari dan ikutlah
Aku (Mat 19:21). Jangan membawa apa-apa dalam
perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang,
atau dua helai baju (Luk 9:3). Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat 16:24). Pada
saat itulah dia memahami makna panggilan bagi dirinya. Dalam sekejab mata dia
melemparkan tongkatnya, membuka sepatunya, melepaskan mantolnya, melepaskan
ikat pinggang kulitnya dan menggantikan-nya dengan seutas tali yang kasar.
Sebagai gantinya sekarang dia mengenakan jubah yang kasar, jubah petani di
lembah Umbria; kelihatan begitu miskin dan dijahit dengan buruk. Tidak seorang
pun akan iri hati melihat jubah seperti itu. Dia pun mengucapkan salam damai
kepada siapa saja yang ditemui seperti yang diminta Yesus kepada para rasul:
“Allah memberi engkau damai sejahtera!”
Pada tanggal 16 April 1210 Fransiskus pergi ke Roma bersama
sebelas orang pengikutnya yang pertama untuk mohon persetujuan Sri Paus atas
peraturan hidup mereka. Peraturan hidup ini sebenarnya sebuah tulisan sederhana
yang terdiri dari petikan ayat-ayat Injil dan beberapa kaidah yang diperlukan
untuk mempraktekkan hidup bersama dalam persaudaraan. Aturan hidup primitif itu
diberikan oleh Paus Innocentius III secara lisan. Sri Paus juga memberi izin
kepada Fransiskus dan saudara-saudaranya untuk mewartakan pertobatan kepada
umat beriman. Fransiskus berjanji untuk taat dan hormat kepada Sri Paus,
sedangkan para saudaranya melakukan yang sama kepada dia. Dengan demikian
kelompok kecil ini menjadi sebuah ordo religius, Ordo Pertama Santo Fransiskus,
yang kemudian dikenal sebagai Ordo Saudara-saudara Dina (Ordo Fratrum
Minorum).
Pada tahun1223 Fransiskus pergi ke Fonte Colombo untuk
menyusun Anggaran Dasar definitif bagi
Ordo Saudara-Saudara Dina. Anggaran Dasar ini didiskusikan dalam Sidang Umum
dan mengalami perubahan-perubahan sampai akhirnya mendapat peneguhan dari Paus
Honorius III pada 29 November. Anggaran Dasar ini sering disebut Anggaran Dasar
“1223”.
6. Lagu:
7. Riwayat Hidup Sto. Fransiskus
Asisi : Perayaan Natal di Grecio (25 Desember 1223)
Sto. Fransiskus Asisi merasa terharu berhadapan dengan
misteri pristiwa inkarnasi Allah. Bagi sang santo, pristiwa inkarnasi merupakan
puncak dari perendahan diri Allah yang mau menjadi manusia yang lemah dan rapuh.
St. Fransiskus Asisi sering kali bercucuran air mata jika merenungkan misteri
perendahan diri Allah itu. Karena itu, dalam perayaan Natal di Grecio, sang
santo ingin menghadirkan secara nyata keagungan misteri inkarnasi itu.
Fransiskus kemudiaan mengumpulkan orang-orang sederhana dari sekitar kampung
Grecio, lalu membuat gua natal yang dilengkapi dengan palungan tempat bayi
Yesus terbaring lemah dan hewan-hewan hidup yang mengelilingi palungan itu.
Misa Natal pun dirayakan dalam situasi yang penuh haru. Bapa Fransiskus dan
umat yang hadir dalam perayaan itu sangat tergerak hati oleh keagungan misteri
Natal. Dan mereka pun bercucuran air mata ketika membayangkan dan menyaksikan
kemiskinan Allah Putra.
8. Lagu
9. Riwayat Hidup St. Fransiskus
Asisi: Stigmata di La Verna (1224)
Pada September 1224 Fransiskus menyepi ke La
Verna untuk menyiapkan diri menghadapi Pesta Santo Mikael Malaikat Agung.
Fransiskus memanjatkan doa untuk memohon
agar Tuhan Yesus Kristus mengaruniakan dua anugerah sebelum dia meninggal.
Yang pertama ialah agar merasakan – dalam jiwa raganya – sebanyak
mungkin penderitaan hebat yang Yesus telah rasakan pada pristiwa salib. Yang
kedua ialah agar diperbolehkan merasakan dalam hatinya sebanyak mungkin
cinta yang tak terbatas, dengan mana Putera Allah tergerak dan mau menanggung
sengsara sedemikian itu bagi manusia yang berdosa.
Murray Bodo
menulis: Hanya seorang pencinta yang dapat memahami kata-kata seperti
ini, dan hanya seorang yang memiliki hati ksatria yang dapat mengucapkannya. Di
bukit La Verna, Fransiskus sang ksatria dan Fransiskus sang pencinta bergabung
dalam ‘permintaan bodoh’ terakhir ini. Seluruh hidup Fransiskus membuktikan
bahwa doa ini dihaturkannya tanpa pamrih dari hatinya yang terdalam dengan mata
yang terarah kepada Tuhan Yesus. Seperti doa yang didengar oleh Bernardus dari
Quintavalle sepanjang malam dulu di rumahnya, “Allahku dan segala[nya]ku,” maka
doa permohonan Fransiskus di La Verna adalah permohonan seorang pecinta agar
dapat bersatu secara total dengan yang dicintainya. Dan ‘ya’ dari Dia yang
dicintainya adalah sebuah rangkulan yang begitu lengkap, sehingga
anggota-anggota tubuh Fransiskus dimeteraikan dengan luka-luka cintakasih,
tanda-tanda Sengsara Kristus dalam dagingnya. Dalam arti yang riil Fransiskus
menjadi pendagingan lebih lanjut dari Allah yang hidup. Hampir seakan-akan Bapa
angkatnya, tidak puas sekedar dengan adopsi, telah membuat Fransiskus menjadi
anak-Nya secara fisik, dengan cara memateraikan dia dengan tanda-tanda dari
Putera Tunggal-Nya sendiri, Yesus Kristus.
10. Lagu
11. Riwayat Hidup St.
Fransiskus Asisi: Nyanyian Saudara Matahari (1225)
Pada tahun 1225 sakit mata Fransiskus semakin
memburuk. Untuk sementara waktu, Fransiskus tinggal di San Damiano bersama dan
para saudarinya. Atas perintah Sdr. Elias, Fransiskus menjalani perawatan medis
tetapi tidak ada perkembangan. Di sana Fransiskus mengalami kegelapan fisik dan
spiritual selama lima puluh hari. Sepanjang waktu itu, siang dan malam, Yesus
merangkul jiwa Fransiskus seperti telah dilakukan-Nya dengan tubuhnya di La
Verna. Di situ juga Fransiskus mengalami apa yang dirasakan oleh Yesus di atas
kayu salib ketika Dia berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku?” (lihat Mrk 15:34; bdk. Mzm 22:2).
Akhirnya Tuhan memberikan kepadanya sebuah janji akan hidup
kekal. Suara dari keheningan itu berkata: “Seandainya sebagai imbalan atas
penderitaan berat yang kaualami ini engkau akan menerima harta kekayaan begitu
besar dan penuh kemuliaan, sehingga kalau pun seluruh bumi dan alam semesta
terbuat dari emas tidak akan ada artinya – bahkan tidak usah disebut, ketimbang
harta yang akan diberikan itu, apakah engkau tidak akan bersuka cita karena
berbahagia, dan apakah engkau tidak mau memikul penderitaan seperti yang
sekarang kaupikul?” Fransiskus menjawab: “Tentu Tuhan, saya akan sangat
berbahagia.” “Bersuka citalah!,” kata Tuhan, “karena sakitmu adalah janji
akan kerajaan-Ku. Oleh karena itu nantikanlah warisan kerajaan itu, setia dan
pasti, karena jasa kesabaranmu.” (lihat 2 Cel 213). Hati Fransiskus
dipenuhi sukacita. Harta yang dicarinya ketika bersembunyi di gua di masa
mudanya, sekarang menjadi miliknya. Sekarang dia mengetahui dengan sempurna,
tetapi masih belum mampu mengekspresikan sepenuhnya apa yang dirasakannya. Pada
waktu itulah dia menyusun sebuah kidung agung dalam hidupnya, “Nyanyian Saudara
Matahari”, sebuah kidung sebagai rasa syukur kepada Bapa surgawi. Dalam kidung
ini Fransiskus mengungkapkan kedalaman jiwanya, di mana terjadi rekonsiliasi
mendalam antara hal-hal yang berlawanan. Di sini Fransiskus mengambil empat
unsur abad pertengahan, bumi, air, udara dan api, kemudian menggabungkan semua
itu sebagai suatu kombinasi pasangan seksual. Unsur-unsur itu menjadi saudara
dan saudari, suatu kesatuan simbolis antara dimensi lelaki dan perempuan dari
jiwanya yang telah menyatu dalam suatu keutuhan terintegrasi.
12. Lagu : Gita Sang Surya
13. Riwayat Hidup St.
Fransiskus Asisi: Bertemu Saudari Maut (3-4 Oktober 1226)
Dalam dua tahun terakhir setelah
mendapat stigmata, Fransiskus – yang praktis sudah buta – tetap melanjutkan
karyanya dengan berkhotbah dan memberi kesaksian hidup sebagai seorang bentara
Raja Agung. Pada tahun 1226 Fransiskus dibawa ke Siena untuk suatu pengobatan
baru lalu kembali ke Portiuncula. Musim panas amat membakar, maka untuk
mengurangi sakitnya, Fransiskus dibawa ke pegunungan Bagnara. Keadaannya makin
parah. Maka ia dibawa kembali ke Assisi dan diinapkan di istana Uskup. Merasa
bahwa saat kematiannya sudah dekat, Fransiskus menulis wasiat dan meminta
supaya dibawa ke Portiuncula. Fransiskus akhirnya berjumpa dengan Saudari Maut
badani pada tanggal 3 Oktober 1226. Untuk kita semua yang menamakan diri
Fransiskan, berikut ini adalah salah satu pesannya yang berlaku sepanjang masa:
“Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, semoga Kristus mengajar kamu apa
yang harus kamu lakukan” (2 Cel 214; bdk. LegMaj XIV:3). Keesokan harinya,
4 Oktober 1226, ia dimakamkan di Gereja San Giorgio di Assisi.
Santo
Bonaventura merangkum dengan singkat kematian Fransiskus sebagai berikut: “O
sungguh pengikut Kristus yang paling sempurna, yang selama hidupnya mau
menyerupai Kristus dan waktu mendekati ajalnya mau menyerupai Kristus menjelang
ajal-Nya dan setelah meninggal mau menyerupai Kristus yang telah wafat dan yang
keinginan satu-satunya ialah mengikuti jejak Kristus dalam segala-galanya
secara sempurna dan yang oleh karenanya patut menerima anugerah istimewa, yaitu
bahwasanya persamaannya dengan Kristus diterakan secara lahiriah dalam
tubuhnya!” (LegMaj XIV:4).
14.
Lagu
15.
Renungan Singkat (lagu instrument)
Dari kisah si miskin dari Asisi yang baru saja kita dengar,
kita dapat menemukan kekayaan rohani yang dapat kita teladani untuk kehidupan
kita, yakni semangat kerendahan hati, semangat mengejar kesempurnaan injili,
semangat mencari Kerajaan Allah dan semangat melayani sesama. Mari kita
merenungkan dalam hati pertanyaan-pertanyaan berikut ini,
- Pertobatan Santo Fransiskus
tidak terjadi dalam sekejab mata, meskipun hal itu dimulai ketika dia
dipenjara dekat Perugia dan menderita sakit. Bagaimana anda mau
membandingkan pertobatanmu dengan pertobatan Fransiskus?
- Pada akhirnya Santo Fransiskus
dibimbing oleh Roh Allah untuk menghayati suatu hidup pelayanan dalam
Gereja. Menurut anda, kepada pelayanan perbaikan Gereja yang mana anda
khususnya dipanggil?
- Agar dapat menepati Injil,
Santo Fransiskus membuat beberapa perubahan radikal dalam gaya hidupnya.
Perubahan-perubahan apa saja yang anda sudah siap lakukan dalam hidupmu?
- Peristiwa yang mana saja dalam
kehidupan Santo Fransiskus yang menyentuh hatimu?
- Dapatkah seseorang (Fransiskan
atau bukan) mewartakan pertobatan kepada orang-orang lain, kalau dirinya
sendiri belum melakukan pertobatan secara terus-menerus?
16. Penghormatan dengan lilin
bernyala
P : Mari kita mempersembahkan lilin dan
menaburkan bunga sebagai tanda penghormatan kita kepada bapa kita St.
Fransiskus Asisi.
Lilin bernyala diletakan pada tempat yang
telah dipersiapkan dan diiringi oleh music instrumen
17. Doa Penutup
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi penghinaan,jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi keputus asaan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita
18. Lagu
Komentar
Posting Komentar