Susunan Transitus St. Fransiskus Asisi


1. Pengantar
Saudara-saudari Pencinta St. Fransiskus Asisi yang terkasih,
Hari ini kita semua berkumpul dan bersatu dalam iman untuk memperingati ‘Transitus’ Sto. Fransiskus Assisi (1181/1182-1224). Transitus merupakan peristiwa beralihnya jiwa Si Miskin St. Fransiskus dari Assisi dari dunia yang fana ke Rumah Bapa di Surga penuh kemuliaan. Hari ini merupakan saat berharga bagi kita untuk merenungkan kembali pesan akhir dari sang santo sebelum saudari maut menjemputnya, yakni “Aku telah melakukan apa yang harus kulakukan; semoga Kristus mengajarmu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya” (LegMaj XIV:3). 
            Pesan ini mengingatkan kita, putra-putri rohani St. Fransiskus, tentang tugas dan panggilan kita sebagai seorang Kristen dan Fransiskan sejati. Jika kita berguru pada pribadi Sang Santo maka kita akan menemukan apa yang menjadi tugas kita, yang terangkum indah dalam tiga puisi doa yang sering dikumandangkan oleh sang santo: Doa di Depan Salib, Doa Damai dan Gita Sang Surya. Dalam doa di depan salib, kita belajar tentang  kerendahan hati, beriman yang benar, berpengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna; dalam doa damai, kita adalah duta damai di mana pun, kapan pun dan dalam situasi apa pun; dalam Gita Sang Surya, kita belajar untuk mencintai seluruh ciptaan Tuhan dan menyebut mereka sebagai saudara dan saudari.
            Karena itu, peristiwa sore hari ini merupakan peristiwa berahmat. Di sini kita mengenang kembali peristiwa detik-detik peralihan Santo Fransiskus Asisi dari dunia ini menuju Surga. Bersamaan dengan itu, kita juga perlu melihat kembali karya-karya yang telah kita lakukan selama ini, karena mungkin, mengutip kata-kata akhir sang santo, “ kita belum berbuat apa-apa, mari kita mulai lagi”. Mari kita merayakan pristiwa transitus sore ini dengan penuh iman.
2. Penyembahan di depan Salib
P          : Kami menyembah Engkau ya Tuhan…………………………
U         : di sini dan di semua Gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau sebab engkau telah menebus dunia dengan Salib-Mu yang suci.
3. Lagu pembuka
4. Tanda Salib
P          : Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U         : Amin
3. Doa Pembuka
P          : Marilah berdoa
Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan, St. Fransiskus Asisi Engkau utus untuk memperbaiki gereja-MU yang mau roboh. Dalam kegersangan iman dan kasih yang menggerogoti tiang-tiang gereja-MU, hamba-Mu St. Fransiskus Asisi hadir dengan semangat hidup yang dijiwai oleh semangat kerendahan hati, penuh iman, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Puncak dari Pengabdiannya yang total dalam mengikuti Tuhan Yesus Kristus, Engkau materaikan dengan stigmata yang mendera tubuh sucinya. Semoga peringatan transitus hari ini, mempertajam hati dan budi kami agar peka dan mampu melihat tanda-tanda zaman, sehingga karya pelayanan kami menjawab kebutuhan umat kesayanganmu. Demi Yesus Kristus………………….
4. Riwayat Hidup St. Fransiskus dari Asisi: Masa Pertobatan (1204 – 1208)
 Pada tanggal 12 September 1202 pecah pertempuran antara Assisi dan Perugia di medan yang terletak antara Collestrada dan Ponte San Giovanni, sebuah desa kecil yang terletak antara Assisi dan Perugia. Pasukan Assisi dipimpin oleh Girard dari Gilbert, konsul dari kota Assisi. Pasukan Assisi menderita kekalahan berat dan Fransiskus turut menjadi tawanan perang di Ponte San Giovanni. Namun karena harta-kekayaan ayahnya, Fransiskus tidak dijebloskan ke dalam sel yang diperuntukkan bagi serdadu biasa, tetapi ditempatkan bersama para kesatria. Fransiskus ditawan hampir satu tahun lamanya. Selama di penjara (tahun 1202 – 1203) Fransiskus menghibur para tawanan dan pada umumnya membuat yang terbaik dari suatu situasi yang sulit, sebuah pola-laku yang akan berulang terus selama hidupnya.
Fransiskus kembali ke Assisi sebelum tahun 1203 berakhir. Penyakit yang mulai diidapnya di penjara dekat Perugia itu membutuhkan waktu lama untuk disembuhkan. Oleh karena itu tahun 1204 dijalaninya sambil terbaring di atas tempat tidur. Ketika akhirnya sembuh dari penyakitnya, dia berjalan-jalan di bukit-bukit Assisi dengan hati sedih, seakan dunia telah kehilangan kemegahannya. Namun secercah sinar telah menyusup ke dalam diri Fransiskus. Di sini dia mulai mendengar suara-suara dan melihat visi-visi yang akan mengubah hidupnya.
Suara pertama terdengar dalam sebuah mimpi di kota Spoleto di tahun 1205. Pada waktu itu Fransiskus sedang menuju Apulia untuk bergabung dengan pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Walter dari Brienne.  Cita-citanya untuk menjadi seorang kesatria memang belum hilang. Dalam mimpinya Fransiskus melihat sebuah ruangan luas dari sebuah istana yang tembok-temboknya dipenuhi dengan perisai-perisai. Lalu terdengar suara yang mengatakan bahwa semua perisai itu milik Fransiskus dan para pengikutnya. Karena salah menafsirkan mimpi itu, Fransikus siap untuk percaya akan “nubuat” untuk menjadi kesatria yang penuh kemuliaan, namun tidak lama kemudian dia mendengar suara lain:
“Fransiskus, mana yang lebih baik, melayani Tuan atau seorang hamba?”
“Oh, Tuan tentunya.”
“Kalau begitu, mengapa engkau mencoba untuk membuat Tuan-mu menjadi seorang hamba?”
Dan seperti Nabi Samuel (lihat 1 Sam 3:1-10.19), Fransiskus mengenali suara yang sedang berbicara kepadanya itu.
“Tuhan, apa yang kaukehendaki untuk aku lakukan?”
“Kembalilah ke Assisi. Di sana akan dinyatakan kepadamu apa yang engkau harus lakukan, dan engkaupun akan mengerti makna dari visi ini.”
Mulai saat itu Fransiskus mulai mendengarkan suara Allah, bukan lagi hasrat hatinya sendiri yang tidak sabar ingin meraih kemuliaan di medan pertempuran. Dia memulai perjalanan kembalinya yang panjang ke Assisi. Tentunya sebuah perjalanan yang penuh dengan pergumulan batianiah. Dalam proses perjuangan batin yang diawali oleh sebuah mimpi itu, Fransiskus menemukan sesuatu yang mengubah inti dasar dari cita-citanya semula untuk menjadi seorang kesatria. Cita-citanya sekarang menjadi lebih murni dan agung, namun pada saat yang sama kelihatan bodoh dan penuh paradoks. Hatinya tidak lagi tertarik pada busana yang indah-mahal, emas, perak atau  pesta pora dengan para sahabatnya yang dulu. Ketertarikannya pada Sang Penebus sejak masa kecilnya sekarang berkobar-kobar menjadi cinta kasih pribadi kepada Yesus yang meluap-luap. Inilah kiranya awal dari perjalanan panjang pertobatan Fransiskus.
Ketika ziarah ke Roma pada tahun 1206 Fransiskus saling bertukar pakaian dengan seorang pengemis miskin agar dapat mengalami secara langsung kemiskinan yang ekstrim, meskipun untuk sesaat saja. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis, apa yang dirasakan dalam hati ketika seseorang mengulurkan tangan untuk minta-minta derma dari orang lain, mohon belas kasihan orang lain. Sepulangnya dari ziarah, dia berteman dengan mereka yang miskin dan terbuang. Dia memang ingin menjadi seperti mereka. Dia pun lalu mulai menyibukkan dirinya dengan orang-orang miskin dan para penderita kusta yang dulu memuakkan  dan menjijikkan baginya. Dalam Wasiat-nya yang jauh kemudian ditulisnya, Fransiskus mengatakan:“Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Was 1-3). Namun dia belum juga menemukan apa yang diinginkan Tuhan dari dirinya.
Pada saat berdoa di depan salib Kristus di gereja kecil San Damiano yang sudah rusak dan mau runtuh, Fransiskus mendengar suara yang datang dari salib Kristus: “Pergilah Fransiskus, perbaikilah gereja-Ku yang sudah reyot dan mau runtuh ini.” Maka Fransiskus mulai memperbaiki gereja San Damiano, karena dia berpikir Tuhan Yesus meminta kepadanya untuk memperbaiki bangunan gedung gereja.  Pada akhirnya dia berhasil memperbaiki tiga gereja, yakni San Damiano, S. Pietro della Spina dan S. Maria degli Angeli. Begitu mendengar suara dari salib Kristus tadi, Fransiskus, si anak pedagang kaya di Assisi itu, langsung pulang ke rumahnya. Diambilnya sejumlah kain dagangan ayahnya, dibawanya semua itu sambil memacu kudanya ke Foligno. Di kota Foligno dijualnya kain dagangan sekaligus beserta kudanya, kemudian dia bergegas menuju gereja San Damiano. Dia mempersembahkan uang hasil penjualannya kepada imam yang menjaga gereja itu. Namun, imam itu menolak uang yang diberikan Fransiskus. Fransiskus yang kecewa kemudian melemparkan uang itu ke atas ambang jendela gereja dan berangkat lagi ke Assisi untuk meminta-minta batu guna memperbaiki gereja Allah. Ini adalah satu lagi titik balik dalam kehidupan Fransiskus. Seolah-olah terdengar suara dari keheningan: “Engkau memperbaiki rumah Allah tidak dengan uang, tetapi dengan batu-batu yang kauperoleh dengan mengemis sambil mengatasi rasa malumu. Dan batu-batu yang diberikan orang-orang kepada seorang pengemis berubah menjadi Gereja yang hidup.”
                                                   Hening (Musik instrument)
5. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi: Peraturan Hidup (1208-1223)
Fransiskus mulai dengan segenap ketulusan hati menepati Injil secara radikal. Dia menetap di sebuah gereja kecil Porziuncola milik para rahib Benediktin dari Gunung Subasio. Dia berhasil memugar gereja ini pada tahun ketiga pertobatannya, yakni tahun 1209. Pada hari pesta Rasul S. Matias tanggal 24 Februari 1209, setelah Misa selesai, Fransiskus meminta imam membuka kitab Injil sebanyak tiga kali. Berikut ini adalah bacaan-bacaannya: Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, … kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku     (Mat 19:21). Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju (Luk 9:3). Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat 16:24). Pada saat itulah dia memahami makna panggilan bagi dirinya. Dalam sekejab mata dia melemparkan tongkatnya, membuka sepatunya, melepaskan mantolnya, melepaskan ikat pinggang kulitnya dan menggantikan-nya dengan seutas tali yang kasar. Sebagai gantinya sekarang dia mengenakan jubah yang kasar, jubah petani di lembah Umbria; kelihatan begitu miskin dan dijahit dengan buruk. Tidak seorang pun akan iri hati melihat jubah seperti itu. Dia pun mengucapkan salam damai kepada siapa saja yang ditemui seperti yang diminta Yesus kepada para rasul: “Allah memberi engkau damai sejahtera!”
Pada tanggal 16 April 1210 Fransiskus pergi ke Roma bersama sebelas orang pengikutnya yang pertama untuk mohon persetujuan Sri Paus atas peraturan hidup mereka. Peraturan hidup ini sebenarnya sebuah tulisan sederhana yang terdiri dari petikan ayat-ayat Injil dan beberapa kaidah yang diperlukan untuk mempraktekkan hidup bersama dalam persaudaraan. Aturan hidup primitif itu diberikan oleh Paus Innocentius III secara lisan. Sri Paus juga memberi izin kepada Fransiskus dan saudara-saudaranya untuk mewartakan pertobatan kepada umat beriman. Fransiskus berjanji untuk taat dan hormat kepada Sri Paus, sedangkan para saudaranya melakukan yang sama kepada dia. Dengan demikian kelompok kecil ini menjadi sebuah ordo religius, Ordo Pertama Santo Fransiskus, yang kemudian dikenal sebagai Ordo Saudara-saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum).
Pada tahun1223 Fransiskus pergi ke Fonte Colombo untuk menyusun Anggaran Dasar definitif  bagi Ordo Saudara-Saudara Dina. Anggaran Dasar ini didiskusikan dalam Sidang Umum dan mengalami perubahan-perubahan sampai akhirnya mendapat peneguhan dari Paus Honorius III pada 29 November. Anggaran Dasar ini sering disebut Anggaran Dasar “1223”.
6. Lagu:
7. Riwayat Hidup Sto. Fransiskus Asisi : Perayaan Natal di Grecio (25 Desember 1223)
             Sto. Fransiskus Asisi merasa terharu berhadapan dengan misteri pristiwa inkarnasi Allah. Bagi sang santo, pristiwa inkarnasi merupakan puncak dari perendahan diri Allah yang mau menjadi manusia yang lemah dan rapuh. St. Fransiskus Asisi sering kali bercucuran air mata jika merenungkan misteri perendahan diri Allah itu. Karena itu, dalam perayaan Natal di Grecio, sang santo ingin menghadirkan secara nyata keagungan misteri inkarnasi itu. Fransiskus kemudiaan mengumpulkan orang-orang sederhana dari sekitar kampung Grecio, lalu membuat gua natal yang dilengkapi dengan palungan tempat bayi Yesus terbaring lemah dan hewan-hewan hidup yang mengelilingi palungan itu. Misa Natal pun dirayakan dalam situasi yang penuh haru. Bapa Fransiskus dan umat yang hadir dalam perayaan itu sangat tergerak hati oleh keagungan misteri Natal. Dan mereka pun bercucuran air mata ketika membayangkan dan menyaksikan kemiskinan Allah Putra.
8. Lagu
9. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi: Stigmata di La Verna (1224)
Pada September 1224 Fransiskus menyepi ke La Verna untuk menyiapkan diri menghadapi Pesta Santo Mikael Malaikat Agung. Fransiskus memanjatkan doa untuk memohon  agar Tuhan Yesus Kristus mengaruniakan dua anugerah sebelum dia meninggal. Yang pertama ialah agar merasakan – dalam jiwa raganya – sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Yesus telah rasakan pada pristiwa salib. Yang kedua ialah agar diperbolehkan merasakan dalam hatinya sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Putera Allah tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi manusia yang berdosa. 
Murray Bodo  menulis: Hanya seorang pencinta yang dapat memahami kata-kata seperti ini, dan hanya seorang yang memiliki hati ksatria yang dapat mengucapkannya. Di bukit La Verna, Fransiskus sang ksatria dan Fransiskus sang pencinta bergabung dalam ‘permintaan bodoh’ terakhir ini. Seluruh hidup Fransiskus membuktikan bahwa doa ini dihaturkannya tanpa pamrih dari hatinya yang terdalam dengan mata yang terarah kepada Tuhan Yesus. Seperti doa yang didengar oleh Bernardus dari Quintavalle sepanjang malam dulu di rumahnya, “Allahku dan segala[nya]ku,” maka doa permohonan Fransiskus di La Verna adalah permohonan seorang pecinta agar dapat bersatu secara total dengan yang dicintainya. Dan ‘ya’ dari Dia yang dicintainya adalah sebuah rangkulan yang begitu lengkap, sehingga anggota-anggota tubuh Fransiskus dimeteraikan dengan luka-luka cintakasih, tanda-tanda Sengsara Kristus dalam dagingnya. Dalam arti yang riil Fransiskus menjadi pendagingan lebih lanjut dari Allah yang hidup. Hampir seakan-akan Bapa angkatnya, tidak puas sekedar dengan adopsi, telah membuat Fransiskus menjadi anak-Nya secara fisik, dengan cara memateraikan dia dengan tanda-tanda dari Putera Tunggal-Nya sendiri, Yesus Kristus. 
10. Lagu
11. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi: Nyanyian Saudara Matahari (1225)
 Pada tahun 1225 sakit mata Fransiskus semakin memburuk. Untuk sementara waktu, Fransiskus tinggal di San Damiano bersama dan para saudarinya. Atas perintah Sdr. Elias, Fransiskus menjalani perawatan medis tetapi tidak ada perkembangan. Di sana Fransiskus mengalami kegelapan fisik dan spiritual selama lima puluh hari. Sepanjang waktu itu, siang dan malam, Yesus merangkul jiwa Fransiskus seperti telah dilakukan-Nya dengan tubuhnya di La Verna. Di situ juga Fransiskus mengalami apa yang dirasakan oleh Yesus di atas kayu salib ketika Dia berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (lihat Mrk 15:34; bdk. Mzm 22:2).
Akhirnya Tuhan memberikan kepadanya sebuah janji akan hidup kekal. Suara dari keheningan itu berkata: “Seandainya sebagai imbalan atas penderitaan berat yang kaualami ini engkau akan menerima harta kekayaan begitu besar dan penuh kemuliaan, sehingga kalau pun seluruh bumi dan alam semesta terbuat dari emas tidak akan ada artinya – bahkan tidak usah disebut, ketimbang harta yang akan diberikan itu, apakah engkau tidak akan bersuka cita karena berbahagia, dan apakah engkau tidak mau memikul penderitaan seperti yang sekarang kaupikul?” Fransiskus menjawab: “Tentu Tuhan, saya akan sangat berbahagia.”  “Bersuka citalah!,” kata Tuhan, “karena sakitmu adalah janji akan kerajaan-Ku. Oleh karena itu nantikanlah warisan kerajaan itu, setia dan pasti, karena jasa kesabaranmu.”  (lihat 2 Cel 213). Hati Fransiskus dipenuhi sukacita. Harta yang dicarinya ketika bersembunyi di gua di masa mudanya, sekarang menjadi miliknya. Sekarang dia mengetahui dengan sempurna, tetapi masih belum mampu mengekspresikan sepenuhnya apa yang dirasakannya. Pada waktu itulah dia menyusun sebuah kidung agung dalam hidupnya, “Nyanyian Saudara Matahari”, sebuah kidung sebagai rasa syukur kepada Bapa surgawi. Dalam kidung ini Fransiskus mengungkapkan kedalaman jiwanya, di mana terjadi rekonsiliasi mendalam antara hal-hal yang berlawanan. Di sini Fransiskus mengambil empat unsur abad pertengahan, bumi, air, udara dan api, kemudian menggabungkan semua itu sebagai suatu kombinasi pasangan seksual. Unsur-unsur itu menjadi saudara dan saudari, suatu kesatuan simbolis antara dimensi lelaki dan perempuan dari jiwanya yang telah menyatu dalam suatu keutuhan terintegrasi.
12. Lagu : Gita Sang Surya
13. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi: Bertemu Saudari Maut (3-4 Oktober 1226)
Dalam dua tahun terakhir setelah mendapat stigmata, Fransiskus – yang praktis sudah buta – tetap melanjutkan karyanya dengan berkhotbah dan memberi kesaksian hidup sebagai seorang bentara Raja Agung. Pada tahun 1226 Fransiskus dibawa ke Siena untuk suatu pengobatan baru lalu kembali ke Portiuncula. Musim panas amat membakar, maka untuk mengurangi sakitnya, Fransiskus dibawa ke pegunungan Bagnara. Keadaannya makin parah. Maka ia dibawa kembali ke Assisi dan diinapkan di istana Uskup. Merasa bahwa saat kematiannya sudah dekat, Fransiskus menulis wasiat dan meminta supaya dibawa ke Portiuncula. Fransiskus akhirnya berjumpa dengan Saudari Maut badani pada tanggal 3 Oktober 1226. Untuk kita semua yang menamakan diri Fransiskan, berikut ini adalah salah satu pesannya yang berlaku sepanjang masa: “Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, semoga Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan” (2 Cel 214; bdk. LegMaj XIV:3). Keesokan harinya, 4 Oktober 1226, ia dimakamkan di Gereja San Giorgio di Assisi.
Santo Bonaventura merangkum dengan singkat kematian Fransiskus sebagai berikut: “O sungguh pengikut Kristus yang paling sempurna, yang selama hidupnya mau menyerupai Kristus dan waktu mendekati ajalnya mau menyerupai Kristus menjelang ajal-Nya dan setelah meninggal mau menyerupai Kristus yang telah wafat dan yang keinginan satu-satunya ialah mengikuti jejak Kristus  dalam segala-galanya secara sempurna dan yang oleh karenanya patut menerima anugerah istimewa, yaitu bahwasanya persamaannya dengan Kristus diterakan secara lahiriah dalam tubuhnya!” (LegMaj XIV:4). 
14. Lagu
15. Renungan Singkat (lagu instrument)
Dari kisah si miskin dari Asisi yang baru saja kita dengar, kita dapat menemukan kekayaan rohani yang dapat kita teladani untuk kehidupan kita, yakni semangat kerendahan hati, semangat mengejar kesempurnaan injili, semangat mencari Kerajaan Allah dan semangat melayani sesama. Mari kita merenungkan dalam hati pertanyaan-pertanyaan berikut ini,
  1. Pertobatan Santo Fransiskus tidak terjadi dalam sekejab mata, meskipun hal itu dimulai ketika dia dipenjara dekat Perugia dan menderita sakit. Bagaimana anda mau membandingkan pertobatanmu dengan pertobatan Fransiskus?
  2. Pada akhirnya Santo Fransiskus dibimbing oleh Roh Allah untuk menghayati suatu hidup pelayanan dalam Gereja. Menurut anda, kepada pelayanan perbaikan Gereja yang mana anda khususnya dipanggil?
  3. Agar dapat menepati Injil, Santo Fransiskus membuat beberapa perubahan radikal dalam gaya hidupnya. Perubahan-perubahan apa saja yang anda sudah siap lakukan dalam hidupmu?
  4. Peristiwa yang mana saja dalam kehidupan Santo Fransiskus yang menyentuh hatimu?
  5. Dapatkah seseorang (Fransiskan atau bukan) mewartakan pertobatan kepada orang-orang lain, kalau dirinya sendiri belum melakukan pertobatan secara terus-menerus?
16. Penghormatan dengan lilin bernyala
P          : Mari kita mempersembahkan lilin dan menaburkan bunga sebagai tanda penghormatan kita kepada bapa kita St. Fransiskus Asisi.
 Lilin bernyala diletakan pada tempat yang telah dipersiapkan dan diiringi oleh music instrumen
17. Doa Penutup
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi penghinaan,jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi keputus asaan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita
18. Lagu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXV Tahun C (Minggu, 21 September 2025)

Ibadat Sabda Minggu, 09 November 2025

Ibadat Sabda HARI MINGU BIASA XXVIII, 12 Oktober 2025