badah Sabda Hari Minggu Biasa XXIV Tahun A
Ibadah Sabda Hari Minggu Biasa
XXIV Tahun A
Minggu, 17 September 2023
Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan,
siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin,
untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan.
Ketika memulai,
Pemimpin (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut,
“Yang menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka untuk masa
Biasa.
01.
TANDA SALIB DAN SALAM
P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan
persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya
02.
KATA PEMBUKA
P: Allah kita adalah Allah yang penuh belas kasih. Kepada manusia yang
berdosa dan mau bertobat, Ia senantiasa membuka tanganNya. Sementara manusia
memiliki sikap egois yang mendorong manusia menganggap dirinya pusat
segala-galanya dan tidak mengingat Tuhan. Namun, pengampunan Allah tidak
menganl batas. Injil hari ini mengajak kita untuk bersedia mengampuni siapa pun
melampui tembok-tembok pembatas persaudaraan dengan mengampuni siapa pun tampa
batas.
03.
TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN
P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya
kita siap mendengarkan Sabda Allah, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa,
dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan
perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya
sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada
para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan
saya pada Allah, Tuhan kita.
P : Semoga
Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.
04.
MENYANYIKAN LAGU KEMULIAAN
05.
DOA PEMBUKA
Ya Allah, Pencipta dan Penguasa segala sesuatu, perkenankanlah kami
merasakan kekuatan belas kasih-Mu. Bantulah kami agar mengabdi Engkau dengan
segenap hati. Dengan pengantaraan Yesus, Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang
hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang
segala masa.
06.
AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN
P : Marilah
kita membuka hati kita untuk mendengar-kan Sabda Tuhan dan menerimanya agar
Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita.
07.
BACAAN PERTAMA (Sir 27:30-28:9)
L. Bacaan dari Kitab Putra
Sirakh:
Dendam kesumat dan amarah
sangatlah mengerikan, dan orang berdosalah yang dikuasainya. Barangsiapa
membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama memperhitungkan
segala dosanya. Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus
juga, jika engkau berdoa. Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan
pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Bolehkah ia mohon
ampun atas dosa-dosanya, kalau ia sendiri tidak menaruh belas kasihan terhadap
seorang manusia yang sama dengannya? Dia hanya daging belaka, namun menaruh
dendam kesumat; siapa gerangan akan mengampuni dosa-dosanya? Ingatlah akan
akhir hidup, dan hentikanlah permusuhan. Ingatlah akan kebusukan serta maut,
dan hendaklah setia kepada segala perintah. Ingatlah akan perintah-perintah dan
jangan mendendami sesama manusia. Hendaklah kamu ingat akan perjanjian dari
Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahan sesama. Jauhilah pertikaian, maka
engkau mengurangkan jumlah dosa, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan
pertikaian. Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan
melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.
L. Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
08. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN
Refrain: Tuhan adalah pengasih
dan penyayang yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, hai jiwaku,
janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.
2. Dialah yang mengampuni
segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus
hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.
3. Tidak terus-menerus Ia
murka, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak pernah Ia
memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal
dengan kesalahan kita.
4. Setinggi langit dari bumi,
demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya!
Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.
09. BACAAN KEDUA (Rm 14:7-9)
"Entah hidup entah mati,
kita tetap milik Tuhan."
L. Bacaan dari Surat Rasul
Paulus kepada umat di Roma:
Saudara-saudara, tidak ada
seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada
seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup
bagi Tuhan, dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan. Jadi entah hidup entah
mati, kita tetap milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup
kembali, supaya Ia menjadi Tuhan baik atas orang-orang mati maupun atas
orang-orang hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
10. ALLELUIA
P : Alleluia
U : Alleluia
P : Perintah
baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama
seperti aku telah mengasihi kamu.
U : Alleluia
11. INJIL (Mat 18:21-35)
P : Marilah kita
bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut Matius.
Pemimpin dan semua yang hadir
membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian
Pemimpin membacakan Injil.
Sekali peristiwa Petrus datang
kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus
mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh
kali?" Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan
sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan
Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan
hamba-hambanya. Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah
kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu
tidak mampu melunasi hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta
anak isteri dan segala miliknya untuk membayar hutangnya. Maka sujudlah hamba
itu menyembah Dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia
membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia
bertemu dengan seorang hamba lain, yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia
menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah
kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan
kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara
sampai dilunaskan segala hutang itu. Melihat itu kawan-kawannya yang lain
sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Maka
raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi dan berkata kepadanya: Hai hamba
yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya
kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah
mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada
algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah Bapa-Ku yang
di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak
mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
I: Demikianlah Sabda Tuhan
U: Terpujilah Kristus.
12. RENUNGAN SINGKAT
Mengampuni bukan
berarti kita lemah, tapi ada hal yang mendasar bagi kita, khususnya umat
beriman yang dikasih Tuhan. Kita semua sebagai umat Tuhan mampu untuk memaafkan
kesalahan sesama agar kita pun dimaafkan oleh sang empunya kehidupan ini.
Sangat keras ditegaskan untuk kita soal mengampuni salah orang lain terhadap
hidup kita dalam bacaan pertama hari ini. Mengampuni
salah orang lain memiliki konsekuensi, yaitu kita pun diberkati oleh Tuhan.
"Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama
mengindahkan segala dosanya," Sir 28:1. Namun pertanyaannya untuk kita,
apakah kita mampu mengampuni kesalahan orang lain atas diri dan kehidupan kita?
Pengampunan itu
membebaskan dan memberikan pembaruan hidup. Segala beban dibebaskan. Namun,
bila kita belum percaya pada pengampunan dan belum mampu mengampuni diri
sendiri, maka kita hidup sebagai orang yang masih mempunyai rasa sakit hati
terhadap orang lain.
Tanda-tanda
sakit hati itu bisa muncul dalam bentuk misalnya masih mengingat-ingat atau
menceritakan kejadian orang lain terus-menerus. Kita selalu menghitung-hitung
kesalahan orang.
Kepercayaan
bahwa Allah mengampuni itu bukan karena usaha kita, tetapi karena belaskasih
Allah. Sebelum kita percaya pada belaskasih Allah, usaha apapun dari diri kita
untuk bisa mengampuni adalah kesia-siaan.
Mengampuni
merupakan pilihan sikap hidup yang rumit. Karena itu, Petrus membutuhkan suatu
ukuran yang pasti sebagi pegangan agar dia bisa mengatur segenap kemampuannya
untuk melakukan hal itu.
Dia menyakini
bahwa apabila dirinya telah mampu memenuhi tuntutan kuantitatif tertentu maka
selesailah sudah tugasnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepadanya.
Persoalan Petrus adalah saling mengampuni antar sesama manusia.
Yesus menyikapi
pertanyaan murid-Nya tentang pengampunan yang harus diberikan terus-menerus.
Inilah sikap Tuhan yang selalu mengampuni kita. Tuhan selalu terbuka dan
menawarkan pengampunan kepada kita.
Memang, kita
tidak mudah mengampuni kesalahan sesama apalagi mereka yang menyakiti hati.
Sulit mengampuni menjadi tanda bahwa kita belum sungguh-sungguh mengalami kasih
Tuhan.
Kita seringkali
berfokus pada diri dan kepentingan diri, seolah hanya kita yang ingin selamat.
Kita perlu menyadari bahwa kita ikut bertanggungjawab atas keselamatan orang
lain.
Sebagai orang
yang telah mengalami kasih Tuhan , kita perlu membagikannya kepada yang lain,
yakni dalam pengampunan dan memaafkan sesama kita. Inilah saat yang baik yakni
dalam masa tobat dan prapaskah ini, untuk berbenah diri dan siap untuk menerima
pengampunan dari Tuhan dan siap memberi pengampunan kepada sesama. Sebab
pengampunan selalu memberi ketenangan hati dan sukacita.
Yesus meminta
Petrus dan kita semua yang percaya kepada-Nya untuk mengampuni dengan sepenuh
hati, tanpa batas kuantitatif tertentu. Batasan kuantitatif tertentu mengungkung
diri dan meminimalisasi kreativitas manusia untuk mengampuni dengan sepenuh
hati.
Sungguh berat
firman hari ini bagi orang
yang keras hatinya, karena enggan untuk memberikan maaf bagi sesamanya. Hidup
sebagai orang beriman, hal mengampuni bukan berarti kita lemah di hadapan
manusia, melainkan karena perintah Tuhan untuk kita.
Bacaan
Injil hari ini mengajak kita melalui perumpamaan yang Yesus
sampaikan, bahwa
Pertama,
mengampuni kesalahan sesama harus tanpa batas.
Kedua,
mengampuni karena kita tahu konsekuensi di hadapan Tuhan. Kit akan bertanggung
jawab di hadapan-Nya.
Ketiga,
mengampuni sesama adalah bentuk timbal balik dari kasih kemurahan hati Tuhan
yang selalu mengasihi kita yang berdosa.
13.
HENING SEJENAK
14.
SYAHADAT
P : Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan
kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku
percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..
15.
DOA UMAT
I. Kristus
bersabda: "Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai
tujuh puluh kali tujuh kali. Marilah kita mohon kepada Allah supaya kita,
umat-Nya, yang telah mengalami kasih Allah, membawa kegembiraan pengampunan
kepada dunia.
L. Bagi semua
Gereja kristiani yang sudah lama terpecah belah oleh dendam dan keangkuhan.
Semoga Bapa mempersatukan kembali Gereja-gereja dalam persatuan Injil serta
dalam kasih Kristus. Marilah kita mohon, ….
U. Kabulkanlah
doa kami, ya Tuhan.
L. Bagi kita
semua di sini: Semoga Allah Bapa mendorong kita agar dalam kata dan karya
memberi kesaksian bahwa Dia selalu tetap memperhatikan kita masing-masing.
Marilah kita mohon, …..
U. Kabulkanlah
doa kami, ya Tuhan.
I. Allah, Engkau
begitu baik pada kami sehingga segala kejahatan dan dosa kami tidak Kau
perhitungkan. Semoga kami, manusia yang kecil dan lemah ini, dalam pergaulan
kami, menunjukkan kasih yang pengampun dengan kata dan perbuatan, karena Yesus
Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.
16.
DOA PUJIAN
P : Saudara-saudari
terkasih, setelah menyadari karya keselamatan Allah bagi hidup kita, marilah
kita memuji Dia dan berseru:
Terpujilah Engkau di surga
U : Terpujilah Engkau di surga
P : Allah,
Bapa yang maharahim, kami memuji nama-Mu karena Engkau telah mengangkat kami
menjadi putra-putri-Mu. Maka kami memuji Engkau:
U : Terpujilah Engkau di surga
P : Ya
Bapa, terdorong oleh cinta kasih, Engkau meme-lihara kami dengan menyediakan
segala yang kami perlukan untuk hidup. Maka kami memuji Engkau:
U : Terpujilah Engkau di surga
P : Ketika
kami berdosa dan karenanya menjauhkan diri dari-Mu, Engkau tidak membiarkan
kami binasa. Sebaliknya, Engkau mendekati kami dalam diri Yesus Putra-Mu.
Melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya Engkau membebaskan kami dari kuasa
dosa dan maut. Maka kami memuji Engkau:
U : Terpujilah Engkau di surga
P : Engkau
telah mengutus Roh Kudus untuk membimbing dan mendampingi hidup kami dan
menjadikan kami anak-anak terang. Maka kami memuji Engkau:
U : Terpujilah Engkau di surga
P : Maka, bersama seluruh umat beriman, dan
dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami
melambung-kan madah pujian bagi-Mu dengan berseru:
[menyanyikan satu lagu bertemakan Puji Syukur]
Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan,
yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi
umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).
17.
Cara A: DENGAN KOMUNI
Sesudah
Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia
membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen
Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah
mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar
bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan
sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami
sambil berdiri.
P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak
merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut
Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari se-paroki yang
merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan. [Hening sejenak]
18.
BAPA KAMI Berdiri
P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut
ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah
Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah
kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun
mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam
pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Sesudah doa Bapa Kami, dapat
juga diadakan Salam damai.
19.
SALAM DAMAI DAN KOMUNI
Bila
ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
Umat
memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah
Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu
menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata:
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa
dunia.
Hosti
dan sibori ditunjukkan kepada umat:
Berbahagialah
kita yang diundang ke perjamuan-Nya.
Pemimpin
dan Umat berdoa bersama-sama.
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang
pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.
Dengan
khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani
umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:
P : Tubuh Kristus.
U : Amin.
Penyambutan
komuni diiringi dengan nyanyian komuni.
20.
DOA PENUTUP
P : Marilah kita berdoa,
Ya Allah, kami
mohon semoga daya santapan surgawi meresapi seluruh jiwa-raga kami, agar hidup
kami selalu dibimbing bukan oleh keinginan hati kami, melainkan oleh kekuatan
sakramen ini yang akan mengantar kami kepada hidup yang kekal. Dengan
pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala
masa. U. Amin.
21. MOHON BERKAT TUHAN
P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala,
memohon berkat Tuhan.
[hening sejenak]
P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan
menghantar kita ke hidup yang kekal.
[sambil
membuat Tanda Salib pada diri sendiri]
Dalam
nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.
22.
PENGUTUSAN
P : Marilah pergi, kita diutus Tuhan untuk saling meneguhkan iman
kepada Tuhan.
U : Amin.
Komentar
Posting Komentar