IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXII Tahun C
HARI MINGU BIASA XXII Tahun C (Hijau)
Minggu, 31 Agustus 2025
Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin, untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan. Ketika memulai, Pemimpin (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka untuk masa Paskah.
01. TANDA SALIB DAN SALAM
P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih karunia Tuhan Yesus
Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
02. KATA PEMBUKA
P : Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Dengan sukacita kita berkumpul pada Hari Minggu Biasa XXII ini untuk merayakan Ekaristi, sumber dan puncak kehidupan iman kita. Hari ini, melalui sabda Allah, kita diajak untuk merenungkan kebajikan kerendahan hati dan kasih yang tulus, yang menjadi inti panggilan kita sebagai murid Kristus.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Sirakh 3:17-18.20.28-29, kita mendengar nasihat bijak tentang kerendahan hati. Orang yang rendah hati akan menemukan kasih karunia di hadapan Allah dan dikasihi oleh sesama, karena ia mendengarkan dengan hati yang terbuka dan tidak mencari kebanggaan diri. Bacaan kedua, dari Surat kepada Umat Ibrani 12:18-19.22-24a, membawa kita pada sukacita perjanjian baru. Kita tidak lagi mendekati Allah dengan rasa takut seperti di Gunung Sinai, tetapi dengan penuh harapan, karena Yesus, Sang Pengantara, telah membuka jalan menuju kota Allah yang hidup, Gunung Sion yang kudus. Sementara itu, dalam Injil menurut Lukas 14:1.7-14, Yesus memberikan pelajaran mendalam tentang kerendahan hati dan keramahtamahan sejati. Di rumah seorang Farisi, Ia mengajak kita untuk tidak mencari tempat terhormat demi kebanggaan diri, tetapi untuk merendahkan diri, karena Allah sendiri yang akan mengangkat kita. Lebih dari itu, Yesus menantang kita untuk mengundang dan melayani mereka yang tidak dapat membalas budi kita, seperti yang miskin, yang lemah, yang terpinggirkan, sebagai wujud kasih yang mencerminkan hati Allah sendiri. Saudara-saudari, bacaan-bacaan ini mengundang kita untuk memeriksa hati kita: Apakah kita hidup dengan kerendahan hati sejati? Apakah kita melayani sesama dengan kasih yang tulus, tanpa mengharapkan imbalan? Marilah kita mempersiapkan diri untuk merayakan Ekaristi ini dengan hati yang terbuka.
03. TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN
P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan Sabda Tuhan, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
P : [Dengan tangan terkatup] Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
04. MENYANYIKAN LAGU KEMULIAAN
[Dianjurkan untuk memakai Madah Kemuliaan di bawah ini.Bisa juga menyanyikan lagu kemulian dari buku Mada Bakti]
P : Kemuliaan kepada Allah di surga
U : dan damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya.
P : Kami memuji Dikau,
U : Kami meluhurkan Dikau.
P : Kami menyembah Dikau,
U : Kami memuliakan Dikau.
P : Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar.
U : Ya Tuhan Allah, raja surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.
P : Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera yang tunggal.
U : Ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Putera Bapa.
P : Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
U : Engkau yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
P : Engkau yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.
U : Karena hanya Engkaulah kudus.
P : Hanya Engkaulah Tuhan.
U : Hanya Engkaulah Mahatinggi, ya Yesus Kristus.
P : bersama dengan Roh Kudus,
U : dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin.
05. DOA PEMBUKA
P : Marilah kita berdoa,
[hening sejenak] Allah Bapa yang Mahamurah, Engkaulah sumber segala rahmat. Ajarilah kami untuk rendah hati di hadapan-Mu sehingga kami mau menyadari kelemahan kami dan membuka diri untuk menerima anugerah-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
U. Amin.
06. AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN
P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita. [Sebaiknya bacaan dibacakan dari Alkitab]
07.
BACAAN (Sir
3:19-21.30-31) -duduk-
"Rendahkanlah
dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan."
L. Bacaan dari Kitab Putra Sirakh:
Anakku, lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, maka engkau akan lebih disayangi daripada orang yang ramah tamah. Makin besar engkau, patutlah makin kaurendahkan dirimu, supaya engkau mendapat karunia di hadapan Tuhan. Sebab besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina dina Ia dihormati. Kemalangan tidak menyembuhkan orang sombong, sebab tumbuhan keburukan berakar di dalam dirinya. Hati yang arif merenungkan amsal, dan telinga yang pandai mendengar merupakan idaman orang bijak.
L. Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
08. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN/LAGU ANTAR BACAAN
Mzm 68:4-5ac.6-7ab.10.11, Ul: lh 11b
“ Dalam KebaikanMu ya Allah, Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas”
Mazmur:
Orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita. Bernyanyilah bagi Allah, bermazmurlah bagi nama-Nya! Nama-Nya ialah Tuhan, beria-rialah di hadapan-Nya!
Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.
Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; tanah milik-Mu yang gersang Kaupulihkan, sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu, ya Allah, Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas.
09. BACAAN KEDUA (Ibr 12:18-19.22-24a) -duduk-
"Kamu sudah datang ke Bukit Sion, dan ke kota Allah yang hidup."
L. Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani:
Saudara-saudara, kamu tidak datang kepada gunung yang tidak dapat disentuh, dan tidak menghadapi api yang menyala-nyala kamu tidak mengalami kekelaman, kegelapan atau angin badai kamu tidak mendengar bunyi sangkakala dan suara dahsyat yang membuat mereka yang mendengarnya me-mohon supaya suara itu jangan lagi berbicara kepada mereka. Sebaliknya kamu sudah datang ke Bukit Sion, dan ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi. Kamu sudah datang kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga; kamu telah sampai kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna. Dan kamu telah datang kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru.
L. Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
10. ALLELUIA
P : Alleluia
U : Alleluia
P : Pikullah kuk yang Kupasang padamu, sabda Tuhan, dan belajarlah pada-Ku, karena aku lemah lembut dan rendah hati
U : Alleluia
11. INJIL (Luk 14:1.7-14) -berdiri
P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut St. Lukas
(Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.)
P. Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Yesus lalu mengatakan perumpamaan ini, “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan. Sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu. Jangan-jangan orang yang mengundang engkau dan tamu itu datang dan berkata kepadamu, Berikanlah tempat itu kepada orang ini. Lalu dengan malu engkau harus pergi pindah ke tempat yang paling rendah. Tetapi apabila engkau diundang, duduklah di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk di depan. Dengan demikian engkau akan mendapat kehormatan di mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang-Nya, “Apabila engkau me-ngadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya para hari kebangkitan orang-orang benar.”
P. Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
12. RENUNGAN SINGKAT
Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan
· Hari ini, Sabda Tuhan mengajak kita untuk merenungkan sebuah kebenaran yang sederhana namun mendalam: kerendahan hati adalah jalan menuju kebesaran sejati di mata Tuhan.
· Kitab Sirakh hari ini menegaskan, “Makin besar engkau, patutlah makin kau rendahkan dirimu” (Sir 3:18). Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa segala yang kita miliki, seperti talenta, kesuksesan, atau bahkan kesempatan untuk hidup, adalah anugerah dari Tuhan. Orang yang rendah hati tidak sibuk mencari pujian atau tempat terdepan. Mereka tahu bahwa Tuhan melihat hati yang tulus dan akan mengangkat mereka pada waktu-Nya.
· Mari kita jujur pada diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita tergoda untuk “mencari tempat terhormat.” Mungkin kita ingin diakui di tempat kerja, di komunitas, atau bahkan di media sosial. Kita ingin orang lain melihat keberhasilan kita, menghargai usaha kita, atau memuji kebaikan kita. Tetapi Yesus mengingatkan kita: janganlah mengejar pengakuan duniawi, karena itu hanya sementara. Sebaliknya, carilah kerendahan hati yang membuat kita dekat dengan Tuhan dan sesama.
· Bacaan kedua dari kitab Ibrani mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari perjanjian baru, di mana Yesus menjadi Pengantara kita. Kita tidak lagi berada di Gunung Sinai yang penuh ketakutan, tetapi di Bukit Sion, kota Allah yang hidup, tempat kasih dan rahmat Tuhan bertahta. Dalam perjanjian ini, kita dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang mencerminkan kasih-Nya melalui kerendahan hati dan pelayanan.
· Panggilan ini bukanlah beban, tetapi undangan untuk menemukan sukacita sejati. Ketika kita merendahkan diri dan melayani tanpa pamrih, kita tidak hanya membawa terang bagi dunia, tetapi juga menemukan makna hidup yang lebih dalam. Kita menjadi alat Tuhan untuk menyentuh hati orang lain, dan dalam proses itu, kita sendiri diubahkan.
· Dalam Injil Lukas, kita mendengar perumpamaan Yesus tentang seorang tamu yang memilih tempat terhormat di pesta perkawinan, hanya untuk diminta pindah karena tempat itu diperuntukkan bagi orang lain. Yesus mengatakan, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Luk 14:11). Dalam dunia yang sering kali menghargai ambisi, status, dan pengakuan, Yesus menawarkan perspektif yang radikal, bahwa kebesaran sejati bukan ditemukan dalam meninggikan diri, tetapi dalam merendahkan diri dan melayani tanpa pamrih. Ini bukan sekadar nasihat tentang tata cara di meja makan, tetapi sebuah ajakan untuk mengubah cara kita menjalani hidup. Yesus mengajarkan bahwa kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari iman kepada Tuhan yang mengatur segalanya.
· Yesus tidak hanya berhenti pada kerendahan hati. Ia menantang kita lebih jauh dengan berkata, “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau” (Luk 14:13-14). Ini adalah panggilan untuk melayani dengan kasih yang murni, tanpa mengharapkan imbalan. Dalam dunia yang sering mengukur nilai seseorang dari apa yang bisa mereka berikan kembali, Yesus mengajak kita untuk melihat wajah-Nya dalam mereka yang terpinggirkan, yang tidak bisa “membalas” kebaikan kita. Bayangkan betapa indahnya dunia ini jika kita semua hidup dengan semangat ini. Bayangkan jika kita berani menjangkau mereka yang terlupakan, tetangga yang kesepian, anak jalanan yang lapar, atau keluarga yang berjuang dalam kesulitan. Melayani tanpa pamrih bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang memberikan waktu, perhatian, dan kasih sayang. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan dengan hati tulus adalah cerminan kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.
· Mari kita bawa pesan ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam keluarga rendah hati berarti berani mendengarkan, bukan hanya menuntut didengar. Seorang ayah atau ibu yang rendah hati mengakui juga bisa salah dan mau belajar dari anak-anaknya. Dalam masyarakat rendah hati berarti tidak mencari kehormatan diri, melainkan bagaimana kehadiran kita membawa kebaikan. Kita tidak perlu selalu jadi yang paling depan, cukup menjadi garam yang memberi rasa, menjadi cahaya yang menerangi. Dalam iman rendah hati berarti datang kepada Tuhan dengan hati terbuka, sadar bahwa kita ini debu dan tanah liat, tetapi dicintai oleh Allah yang besar.
· Kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan sejati. Orang yang rendah hati tidak mudah goyah, karena ia tidak sibuk mempertahankan gengsinya. Ia bebas melayani, bebas mencintai, bebas memberi. Maka, mari kita belajar dari Yesus sendiri: meski Ia adalah Tuhan, Ia memilih menjadi hamba, membasuh kaki murid-murid-Nya, dan akhirnya menyerahkan nyawa di salib. Itulah kerendahan hati yang membawa keselamatan bagi dunia.
· Marilah kita melangkah keluar dari gereja ini dengan hati yang baru, siap untuk merendahkan diri dan melayani dengan kasih. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bahwa kebesaran sejati ditemukan dalam kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih.
13. HENING SEJENAK
14. SYAHADAT
P : Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..
15. DOA UMAT
P. Semua orang diundang ke perjamuan Tuhan. Mengingat itu beranilah kita memanjatkan doa bersama kepada Bapa di surga:
L. Bagi para petugas Gereja: Semoga
Bapa, menjaga para petugas Gereja-Nya agar mengikuti jejak Yesus yang lemah
lembut dan rendah hati dalam melayani umatnya. Marilah kita mohon
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi para pemimpin bangsa: Semoga Bapa, menerangi para pemimpin bangsa, agar jangan mengambil tindakan-tindakan demi kepopuleran diri, melainkan demi kesejahteraan umum. Marilah kita mohon, …
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi dunia yang berada dalam cengkeraman perang dan kekerasan, kecurangan dan penyalahgunaan kekuasaan: Semoga Bapa membimbing orang-orang jujur yang mempunyai visi, serta diilhami oleh nilai-nilai Injil. Semoga mereka mengembalikan dunia ke jalan cinta kasih dan perdamaian. Marilah kita mohon,....
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi semua saja yang merawat orang sakit dan jompo: Semoga Bapa, memberkati mereka yang merawat orang sakit dan jompo, agar selalu ingat bahwa kebesaran seseorang terletak pada kerendahan hati. Marilah kita mohon,………
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi kita sendiri: Semoga
Bapa, membimbing agar kita dapat menerima baik kemampuan maupun kelemahan kita
sebagaimana adanya. Marilah kita mohon,……………
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
P. Allah Bapa yang mahakuasa,
Engkau menghendaki Putra-Mu melayani kami dan minta agar kami melanjutkan karya
pelayanan itu atas nama-Mu. Atas dukungan rahmat-Mu dan kekuatan cinta kasih-Mu
kami berusaha kearah itu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin. U.
Amin.
16. KOLEKTE
[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.
17. DOA PUJIAN
P : Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan selalu mendatangi kita dan menawarkan kita untuk kembali ke rumah-Nya. Ada banyak tempat di rumah Bapa kita. Kepada Tuhan yang mahabaik dan mahabelaskasih ini, kita pun berseru: Terpujilah Engkau di surga.
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Kami bersyukur kepadamu, ya Allah Bapa kami, sebab anak-anak-Mu yang terpisah-pisah jauh oleh kedurhakaan dosa, telah Engkau himpun kembali menjadi satu di hadapan-Mu, demi darah Putra-Mu dan kekuatan Roh Kudus. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa, dengan perantaraan Kristus, Engkau mencurahkan Roh Kudus atas segala bangsa, agar Ia tinggal dalam hati para Putera-Mu, dan dengan anugerah-Nya, Roh Kudus itu mempersatukan semua orang. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa, umat yang disatukan oleh kekuatan Tritunggal Kudus itu, Engkau kumpulkan dalam gereja, yakni tubuh Kristus dan kenisah Roh Kudus. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Maka, bersama seluruh umat beriman, dan dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru: [menyanyikan satu lagu bertemakan Puji Syukur] Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).
18A. Cara A: DENGAN KOMUNI
Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.
P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan.
[Hening sejenak]
19A. BAPA KAMI Berdiri
P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.
20A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI
Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: )
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanNya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.
(Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:)
P : Tubuh Kristus.
U : Amin. (Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.)
----------------------------------------------------------------------------------------------
18B. Cara B. TANPA KOMUNI
P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.
19B. BAPA KAMI --Berdiri
P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Dapat dilaksanakan Salam Damai.
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.
20B. DOA KOMUNI BATIN Berlutut/berdiri
Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan antara lain sebagai berikut:
P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.
P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]
P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurangkurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak]
P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:
P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.
▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.
▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu.
21. MENDOAKAN MAZMUR 34:2-11
P : Marilah kita bersama-sama, mendoakan Mazmur 34 untuk memuji keagungan Tuhan.
Yang membawakan Alkitab, kita buka Mazmur 34 dan kita doakan bersama-sama, dimulai dengan ayat 2, sampai ayat 11.
Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu Dan sepanjang segala abad, Amin.
22. AMANAT PENGUTUSAN
P : Hari ini, Sabda Tuhan menyalakan api di hati kita: hiduplah rendah hati dan layanilah sesama dengan kasih tulus. Yesus mengingatkan kita bahwa kebesaran sejati bukan ditemukan dalam mencari kehormatan bagi diri sendiri, melainkan dalam merendahkan diri dan mengasihi mereka yang tidak bisa membalas kebaikan kita. Marilah kita membawa pesan ini dalam hati dan tindakan kita.
23. DOA PENUTUP
P : Marilah kita berdoa:
Allah Bapa sumber kehidupan, kami bersyukur atas santapan suci yang menghidupi kami dalam peziarahan kami ini. Semoga, kami tekun dan setia dalam menghayati semangat Ekaristi, yaitu berani berserah kepada-Mu dan berbagi hidup dengan sesama sehingga kelak kami pun layak menerima anugerah kehidupan abadi yang Kaujanjikan.. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.
24. MOHON BERKAT TUHAN DAN PENGUTUSAN
P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan. [hening sejenak]
P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri]
DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.
U : Amin.
P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.
P : Marilah pergi, kita diutus.
U : Amin.
25. LAGU PENUTUP
Komentar
Posting Komentar