IBADAT SABDA HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

 

HARI MINGU BIASA XX Tahun C (Putih)

HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Minggu, 17 Agustus 2025

Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin, untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan. Ketika memulai, Pemimpin (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka untuk masa Paskah.

01. TANDA SALIB DAN SALAM

P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U : Amin.

P : Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.

02. KATA PEMBUKA

P : Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang terkasih dalam Tuhan

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa atas anugerah kemerdekaan yang telah diberikan kepada bangsa kita, bangsa Indonesia, yang pada hari ini, 17 Agustus 2025 memasuki usia ke-80 tahun. Dalam semangat Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, bacaan-bacaan suci hari ini mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan sejati, yang tidak hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam iman, kasih, dan pelayanan kepada Allah serta sesama.

Bacaan I dari Kitab Sirakh 10:1-8 mengajarkan tentang pentingnya kebijaksanaan dalam pemerintahan dan kehidupan. Pemimpin yang bijak akan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya, tetapi kecongkakan dan ketidakadilan dapat meruntuhkan tatanan masyarakat. Bacaan ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari hati yang rendah hati dan bertanggung jawab, baik sebagai pemimpin maupun warga masyarakat. Dalam Bacaan II dari 1 Petrus 2:13-17,
Rasul Petrus mengajak umat untuk menghormati otoritas duniawi demi kebaikan bersama, namun tetap menjadikan Allah sebagai pusat hidup. Kita dipanggil untuk hidup sebagai orang merdeka, tetapi kemerdekaan itu harus digunakan untuk melakukan kebaikan, bukan kejahatan. Bacaan ini menggarisbawahi bahwa kemerdekaan sejati adalah kebebasan untuk mengasihi dan melayani sesama dengan tulus. Dalam Bacaan Injil Matius 22:15-21, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan licik tentang membayar pajak kepada kaisar dengan berkata, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Yesus mengajarkan keseimbangan antara kewajiban duniawi dan rohani. Dalam konteks kemerdekaan, kita diajak untuk setia sebagai warga negara yang baik, sekaligus menyerahkan hidup kita kepada kehendak Allah.

 (hening sejenak)

03. TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN

P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan Sabda Tuhan, Terang dan Pedoman hidup kita.

U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.

P : [Dengan tangan terkatup] Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.

04. MENYANYIKAN LAGU KEMULIAAN

[Dianjurkan untuk memakai Madah Kemuliaan di bawah ini.Bisa juga menyanyikan lagu kemulian dari buku Mada Bakti]

P : Kemuliaan kepada Allah di surga

U : dan damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya.

P : Kami memuji Dikau,

U : Kami meluhurkan Dikau.

P : Kami menyembah Dikau,

U : Kami memuliakan Dikau.

P : Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar.

U : Ya Tuhan Allah, raja surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.

P : Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera yang tunggal.

U : Ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Putera Bapa.

P : Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.

U : Engkau yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.

P : Engkau yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.

U : Karena hanya Engkaulah kudus.

P : Hanya Engkaulah Tuhan.

U : Hanya Engkaulah Mahatinggi, ya Yesus Kristus.

P : bersama dengan Roh Kudus,

U : dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin.

05. DOA PEMBUKA

P : Marilah kita berdoa,

[hening sejenak]  Ya Allah, dalam diri Putra-Mu, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan yang sejati. Kami bersyukur karena Engkau telah menganugerahkan kemerdekaan kepada bangsa kami. Semoga, Engkau selalu melindungi tanah air kami dan menjauhkannya dari segala bahya peperangan dan bencana alam. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.

U. Amin.

06. AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN

P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita. [Sebaiknya bacaan dibacakan dari Alkitab]

07. BACAAN PERTAMA (Sir 10:1-8) -duduk-

"Para penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya."

L. Bacaan dari Kitab Putra Sirakh:

Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya, seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang.

L. Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah.

08. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN/LAGU ANTAR BACAAN

Ulangan: Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; Ul: Gal 5:13

 

 

Mazmur:

1. Ya, Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum-Mu. Aku hendak hidup tanpa cela. Aku hendak hidup dengan suci dalam rumahku, hal-hal yang jahat takkan kuperhatikan.
2. Mataku tertuju kepada rakyatku yang setia, supaya mereka tinggal bersama aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan mendukung aku.
3. Orang yang melakukan tipu daya, tidak akan diam dalam rumahku. Orang yang berbicara dusta tidak bertahan di bawah pandanganku.

09. BACAAN KEDUA (1Ptr 2:13-17) -duduk-

"Berlakulah sebagai orang merdeka."

L.  Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudaraku yang terkasih, demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan untuk mengganjar orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetap hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

L. Demikianlah sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

10. ALLELUIA

P : Alleluia

U : Alleluia

P : Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

U : Alleluia

11. INJIL (Mat 22:15-21) -berdiri

P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut St. Matius

 (Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.)

P. Sekali peristiwa orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka Ia lalu berkata, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu!" Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka, "Gambar dan tulisan kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

P. Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus.

12. RENUNGAN SINGKAT

Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan

Hari ini, kita merayakan Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, sebuah momen penuh sukacita dan syukur atas anugerah kebebasan yang telah Tuhan karuniakan kepada bangsa kita. Namun, di tengah kemeriahan bendera merah putih dan sorak-sorai kebangsaan, bacaan-bacaan liturgi hari ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam: Apa makna sejati kemerdekaan bagi kita sebagai umat Katolik?

Dalam Bacaan Injil (Matius 22:15-21), kita mendengar Yesus menjawab pertanyaan licik dari orang-orang Farisi tentang membayar pajak kepada kaisar. Dengan bijaksana, Yesus berkata, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Kata-kata ini bukan hanya tentang kewajiban membayar pajak, tetapi sebuah panggilan untuk hidup seimbang: menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara tanpa melupakan panggilan rohani kita sebagai anak-anak Allah. Kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu menjalani keduanya dengan hati yang tulus, setia kepada bangsa dan setia kepada Allah. 80 tahun lalu, para pahlawan kita berjuang untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Mereka rela berkorban, bahkan nyawa, demi kebebasan yang kita nikmati hari ini. Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada kebebasan fisik. Rasul Petrus dalam Bacaan II (1 Petrus 2:13-17) mengingatkan kita, “Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi janganlah kamu menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk kejahatan, melainkan untuk mengabdi kepada Allah.” Kemerdekaan sejati adalah kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan membawa kebaikan bagi sesama, bukan untuk egoisme, korupsi, atau perpecahan. Lihatlah realitas di sekitar kita. Di tengah kemajuan bangsa, kita masih dihadapkan pada tantangan: ketimpangan sosial, kerusakan alam/ kerusakan ekologis, tanah - udara dan air tercemar, konflik antar kelompok, dan ancaman terhadap keutuhan bangsa.

Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di tengah dunia. Bacaan I dari Kitab Sirakh (10:1-8) mengajarkan bahwa kebijaksanaan dan keadilan adalah fondasi kemakmuran sebuah bangsa. Kita mungkin bukan presiden atau pejabat tinggi, tetapi setiap dari kita memiliki peran dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat. Mulai dari hal kecil, menjaga kejujuran dan keadilan, menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan di sekitar kita, membantu tetangga yang kesusahan, atau menolak menyebarkan hoaks, kita sedang mengisi kemerdekaan dengan makna sejati.

Kemerdekaan Indonesia adalah anugerah, tetapi juga tanggung jawab. Kita dipanggil untuk menghidupi kemerdekaan dengan kasih, seperti yang dicontohkan Yesus. Kasih itu nyata: ketika kita mendamaikan yang bertikai, memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas, menjaga tanah dan air agar tidak tercemar oleh sampah, atau sekadar tersenyum dan memberi semangat kepada sesama. Bacaan-bacaan suci hari ini mengingatkan kita untuk hidup dengan integritas, menjaga hati yang murni, dan memilih jalan kebenaran. Inilah wajah kemerdekaan sejati: menjadi berkat bagi bangsa dengan hidup yang mencerminkan kasih Kristus.

Di usia ke-80 tahun kemerdekaan ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: Apa yang sudah saya berikan untuk bangsa ini? Bagaimana saya menghidupi iman saya sebagai warga negara yang baik?  Mari kita isi kemerdekaan ini dengan perbuatan nyata: menjaga persatuan, memajukan kesejahteraan, dan menghadirkan kasih Allah di mana pun kita berada. Kita adalah generasi penerus yang dipanggil untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan, bukan dengan senjata, tetapi dengan kasih, komitmen, kejujuran, dan pelayanan.

13. HENING SEJENAK

14. SYAHADAT

P : Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..

15. DOA UMAT

P.  Kemerdekaan dan tanah air yang berlimpah rahmat diberikan kepada kita oleh Allah Bapa yang Mahabaik karena Ia begitu menyayangi kita. Marilah kita meluhurkan nama-Nya dan memanjatkan doa kepada-Nya:

L. Bagi para rohaniwan: Semoga pada zaman ini, yang sayangnya ditandai oleh pelbagai lakon kekerasan dan intoleransi, para rohaniwan dengan tekun-setia menunjukkan jalan ke arah perdamaian dan kesaling-pengertian di antara manusia. Marilah kita mohon.

U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi seluruh kaum beriman: semoga Bapa menerangi kita agar perjamuan ekaristi yang setiap kali kita rayakan, memberi kekuatan nyata kepada umat-Nya untuk meningkatkan pengabdian kepada-Nya serta sesama. Marilah kita mohon.

U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi para pemimpin negara di dunia ini, secara khusus di negara kita, Indonesia: Semoga Bapa mengilhami para pemimpin untuk membuat undang-undang yang bijaksana bagi bangsa mereka, yang menjamin kebebasan dan keadilan bagi setiap warga. Marilah kita mohon.  
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi para pemimpin organisasi internasional: Semoga Bapa, menerangi para pemimpin organisasi internasional, agar menjunjung tinggi kebebasan dan martabat semua manusia, serta menempatkan keadilan dan kualitas hidup di atas kekayaan serta kekuasaan. Marilah kita mohon.
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu

L. Bagi keadilan dan kerukunan: Semoga Bapa membimbing semua orang yang berkumpul di sekitar altar ini seturut kemampuannya giat mengusahakan keadilan dan kerukunan di tengah-tengah masyarakat. Marilah kita mohon.

U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi mereka yang ditahan atau ditawan: Semoga Allah Bapa memberikan ketabahan hati mereka yang ditahan atau ditawan, agar jangan sampai putus asa, melainkan yakin bahwa kita berusaha supaya mereka mendapat kesempatan hidup lagi. Marilah kita mohon.
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi kita semua di sini: Semoga Allah Bapa menerangi kita agar lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan kita masing-masing. Marilah kita mohon.
U. Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

P.  Tuhan Allah yang Mahaesa, Engkau telah menganugerahkan kemerdekaan kepada nusa dan bangsa kami. Kami mohon, lindungilah kepada nusa dan bangsa kami, agar tetap bebas merdeka, dan aman sentosa, sehingga seluruh rakyat dengan tenang dan bebas mengabdi Engkau dan sesama. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

U. Amin.

16. KOLEKTE

[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.

17. DOA PUJIAN

P : Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan selalu mendatangi kita dan menawarkan kita untuk kembali ke rumah-Nya. Ada banyak tempat di rumah Bapa kita. Kepada Tuhan yang mahabaik dan mahabelaskasih ini, kita pun berseru: Terpujilah Engkau di surga.

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Kami bersyukur kepadamu, ya Allah Bapa kami, sebab anak-anak-Mu yang terpisah-pisah jauh oleh kedurhakaan dosa, telah Engkau himpun kembali menjadi satu di hadapan-Mu, demi darah Putra-Mu dan kekuatan Roh Kudus. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Ya Bapa, dengan perantaraan Kristus, Engkau mencurahkan Roh Kudus atas segala bangsa, agar Ia tinggal dalam hati para Putera-Mu, dan dengan anugerah-Nya, Roh Kudus itu mempersatukan semua orang. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Ya Bapa, umat yang disatukan oleh kekuatan Tritunggal Kudus itu, Engkau kumpulkan dalam gereja, yakni tubuh Kristus dan kenisah Roh Kudus. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Maka, bersama seluruh umat beriman, dan dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru: [menyanyikan satu lagu bertemakan Puji Syukur] Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).

18A. Cara A: DENGAN KOMUNI

Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.

P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan.

[Hening sejenak]

19A. BAPA KAMI Berdiri

P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.

U: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.

20A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI

Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:

P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: )

P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanNya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.

U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.

(Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:)

 P : Tubuh Kristus.

U : Amin. (Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.)

----------------------------------------------------------------------------------------------

18B. Cara B. TANPA KOMUNI

P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.

19B. BAPA KAMI --Berdiri

P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.

U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Dapat dilaksanakan Salam Damai.

P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.

20B. DOA KOMUNI BATIN Berlutut/berdiri

Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan antara lain sebagai berikut:

P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.

P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]

P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurangkurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak]

P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:

P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.

▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.

▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu.

 21. MENDOAKAN MAZMUR 34:2-11

P : Marilah kita bersama-sama, mendoakan Mazmur 34 untuk memuji keagungan Tuhan.

Yang membawakan Alkitab, kita buka Mazmur 34 dan kita doakan bersama-sama, dimulai dengan ayat 2, sampai ayat 11.

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu Dan sepanjang segala abad, Amin.

22. AMANAT PENGUTUSAN

P : Hari ini, kita telah merenungkan makna kemerdekaan sejati melalui firman Tuhan, yang mengajak kita untuk hidup sebagai orang merdeka yang mengasihi dan melayani, baik kepada Allah maupun sesama. Di usia ke-80 tahun kemerdekaan Indonesia, kita diutus untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan umat Allah yang setia. Pergilah dan hiduplah sebagai garam dan terang bagi bangsa ini. Wujudkan kasih Kristus dalam perbuatan nyata: jaga persatuan, junjung kejujuran,jaga kebersihan tanah dan air, dan layani sesama dengan hati tulus. Jadilah teladan keadilan dan damai di keluarga, komunitas, dan masyarakat. Dengan semangat kemerdekaan dan iman, mari kita songsong masa depan Indonesia yang lebih baik, dengan kasih dan kebenaran sebagai landasan. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!

23. DOA PENUTUP

P : Marilah kita berdoa:

Ya Allah, kami bersyukur karena telah Kaukenyangkan dengan santapan surgawi. Semoga, persatuan kami dengan Putra-Mu ini semakin mempererat persatuan kami sebagai satu nusa dan satu bangsa dengan tetap menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami. Dengan demikian, terciptalah kerukunan dan damai sejahtera di tanah air kami, sebagai gambaran tanah air surgawi yang kami rindukan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

U. Amin. 

24. MOHON BERKAT TUHAN DAN PENGUTUSAN

 P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan. [hening sejenak]

 P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri]

DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.

U : Amin.

P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.

U : Syukur kepada Allah.

P : Marilah pergi, kita diutus.

U : Amin.

25. LAGU PENUTUP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXV Tahun C (Minggu, 21 September 2025)

Ibadat Sabda Minggu, 09 November 2025

Ibadat Sabda HARI MINGU BIASA XXVIII, 12 Oktober 2025