Ibadat Sabda Minggu biasa XXX, 26 Oktober 2025
HARI MINGU BIASA XXX Tahun C (Hijau)
Minggu, 26 Oktober 2025
Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin, untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan. Ketika memulai, Pemimpin (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka untuk masa Paskah.
01. TANDA SALIB DAN SALAM
P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih
karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus
beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
02. KATA PEMBUKA
P : Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Hari ini, Sabda Tuhan mengajak kita untuk merenungkan makna kerendahan hati di hadapan Allah, seperti pemungut cukai dalam Injil. Tuhan tidak mencari kesalehan yang dipamerkan, melainkan kerendahan hati yang lahir dari kesadaran akan dosa dan kebergantungan penuh pada rahmat-Nya. Dalam bacaan I Kitab Sirakh 35:12-14,16-1, Allah mengingatkan kita, bahwa Dia adalah hakim yang adil dan tidak memihak. Ia mendengarkan doa orang miskin dan tertindas, bukan karena prestasi mereka, tetapi karena kerendahan hati mereka. Sementara Rasul Paulus, di akhir hidupnya, bersaksi ( 2 Tim. 4:6-8,16-18): “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik… kini mahkota kebenaran menantiku”, bukan karena kesombongannya, melainkan karena ia menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang setia.
Tuhan Yesus dalam Injil Lukas 18:9-14 mengajarkan perumpamaan yang mengguncang: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, tetapi barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” Yesus menampilkan dua sikap berdoa yang sangat berbeda: orang Farisi yang sombong dan pemungut cukai yang rendah hati. Hanya yang datang dengan hati yang jujur dan menyesal yang dibenarkan Allah.
Maka dalam Ibadat Sabda ini, marilah kita datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang sederhana, mengakui segala kelemahan kita, dan memohon rahmat agar kita selalu memiliki kerendahan hati seperti pemungut cukai dalam Injil hari ini.
03. TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN
P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan Sabda Tuhan, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
P : [Dengan tangan terkatup] Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
04. MENYANYIKAN LAGU KEMULIAAN
[Dianjurkan untuk memakai Madah Kemuliaan di bawah ini.Bisa juga menyanyikan lagu kemulian dari buku Mada Bakti]
P : Kemuliaan kepada Allah di surga
U : dan damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya.
P : Kami memuji Dikau,
U : Kami meluhurkan Dikau.
P : Kami menyembah Dikau,
U : Kami memuliakan Dikau.
P : Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar.
U : Ya Tuhan Allah, raja surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.
P : Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera yang tunggal.
U : Ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Putera Bapa.
P : Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
U : Engkau yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
P : Engkau yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.
U : Karena hanya Engkaulah kudus.
P : Hanya Engkaulah Tuhan.
U : Hanya Engkaulah Mahatinggi, ya Yesus Kristus.
P : bersama dengan Roh Kudus,
U : dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin.
05. DOA PEMBUKA
P : Marilah kita berdoa,
[hening sejenak] Ya Allah, sayangilah hamba-hamba-Mu, dan lipatgandakanlah karunia rahmat-Mu dalam diri mereka. Semoga dengan iman, harapan dan kasih yang berkobar-kobar, mereka selalu tekun mematuhi perintah-perintah-Mu. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
U. Amin.
06. AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN
P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita. [Sebaiknya bacaan dibacakan dari Alkitab]
07.
BACAAN I (Sir 35:15b-17.20-22a) -duduk-
"Doa orang miskin menembusi awan."
L. Bacaan
dari Kitab Putra Sirakh:
Tuhan adalah hakim yang tidak memihak, Ia tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan yatim piatu tidak Ia abaikan, demikian pula jeritan janda yang mencurahkan permohonannya. Tuhan berkenan kepada siapa saja yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sebelum mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti sebelum Yang Mahatinggi memandangnya, sebelum Yang Mahatinggi memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan.
L. Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
08. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN/LAGU ANTAR BACAAN
(Mzm 121:1-2.3-4.5-6.7-8)
Refren: Tuhan mendengarkan doa orang beriman
Mazmur:
Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu, puji-pujian kepada-Nya
selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang
yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan
akan mereka dari muka bumi. Apabila orang benar itu berseru-seru Tuhan
mendengarkan; dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.
Tuhan itu dekat kepada orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.
09. BACAAN II (2 Tim 4:6-8.16-18) -duduk-
"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran."
L.
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius:
Saudaraku terkasih, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan, dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya; bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak ada seorang pun yang membantu aku; semuanya meninggalkan aku. Kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka. Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya, dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.
L. Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
10. ALLELUIA
P : Alleluia
U : Alleluia
P : Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diriNya dan mempercayakan berita perdamaian itu kepada kami.
U : Alleluia
11. INJIL (Luk 18:9-14) -berdiri
P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut St. Lukas
(Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.)
P. Sekali peristiwa Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang satu adalah orang Farisi, dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini. Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain; aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini! Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani mene-ngadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
P. Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
12. RENUNGAN SINGKAT
Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Hari ini kita kumpul di gereja, seperti keluarga besar. Ada yang datang dengan senyum, ada yang bawa beban hati. Tapi satu hal yang pasti: Tuhan senang kita datang apa adanya. Pernahkah kita merasa diri lebih baik dari orang lain? Kadang kita berkata dalam hati, “Saya lebih rajin ke gereja, saya lebih aktif di lingkungan, saya tidak seperti si A yang jarang datang misa.” Nah, Injil hari ini mengingatkan kita supaya tidak jatuh ke dalam kesombongan rohani seperti orang Farisi.
Yesus bercerita tentang dua orang yang berdoa di Bait Allah. Yang satu orang Farisi, orang yang taat beragama, rajin berdoa, dan berpuasa dua kali seminggu. Ia berdiri tegak dan berdoa begini: “Aku bersyukur kepada-Mu, Tuhan, karena aku tidak seperti orang lain.” Ia bangga pada kebaikannya sendiri. Tapi di balik doa itu, ia tidak benar-benar berbicara kepada Tuhan, melainkan sedang memuji dirinya sendiri. Sementara itu, ada seorang pemungut cukai, orang yang dianggap berdosa dan tidak layak. Ia berdiri jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit. Ia hanya menunduk dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Yesus berkata:
“Pemungut cukai itu pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah, bukan orang Farisi itu.”
Allah tidak menilai sebanyak maupun hebatnya perbuatan kita, tetapi Dia menilai bagaimana sikap hati kita: apakah kita datang dengan kerendahan hati? Apakah kita sadar bahwa kita butuh rahmat-Nya? Apakah doa kita adalah ungkapan syukur dan pengakuan diri atau sekadar pamer prestasi?
Karena Tuhan tidak melihat baju kita, tidak melihat jabatan kita, tidak melihat berapa kali kita ke gereja. Tuhan lihat hati kita. Karena itu, "barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Dalam bacaan pertama, Kitab Sirakh berkata: “Tuhan adalah hakim yang tidak memihak, Ia mendengarkan doa orang miskin.” Artinya, Tuhan tidak melihat siapa kita, tapi bagaimana hati kita. Kita bisa miskin, sederhana, atau tidak punya banyak ilmu, tapi kalau kita datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan rendah, Tuhan mendengarkan kita.
Rasul Paulus dalam bacaan kedua berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir.” Paulus tidak sombong atas perjuangannya. Ia tetap rendah hati, karena tahu semua itu berkat rahmat Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan memberinya “mahkota kebenaran”, bukan karena jasanya, tapi karena kesetiaannya. Ia juga sadar bahwa semua yang dia lakukan bukan karena ia kuat, tapi karena bantuan dari Tuhan.
Kerendahan hati itu seperti tanah yang gembur. Bila hati kita lembut dan rendah, benih rahmat Tuhan akan tumbuh subur. Tapi bila hati kita keras karena sombong dan merasa benar sendiri, benih itu tidak akan pernah tumbuh. Kadang di kampung kita, ada yang merasa “lebih suci” karena rajin ikut misa, sementara menilai orang lain yang jarang datang gereja sebagai “orang berdosa.” Padahal, bisa saja orang yang jarang datang itu menangis di kamar setiap malam, memohon ampun kepada Tuhan. Kita tidak tahu isi hati orang lain. Hanya Tuhan yang tahu.
Mari kita belajar dari pemungut cukai dalam bacaan Injil. Ia tidak pandai berdoa panjang-panjang, tapi doanya tulus: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
13. HENING SEJENAK
14. SYAHADAT
P : Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..
15. DOA UMAT
P. Kita
masing-masing saling membutuhkan. Masing-masing punya bakat yang harus
digunakan untuk orang lain, Maka oleh Kristus kita dipersatukan dalam
tubuh-Nya. Agar semua bersatu kita berdoa:
L. Bagi Sri Paus, para uskup dan para imam: Semoga Bapa, membimbing para
pemimpin Gereja yang merupakan pilihan cinta kasih-Nya agar menjadi tanda
kehadiran-Nya di tengah umat manusia. Marilah kita mohon, …
U. Dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi para pejabat pemerintahan: Semoga Bapa membimbing para pejabat pemerintahan, agar dalam kemajuan-kemajuan pembangunan yang dicapai jangan sampai lupa bersyukur kepada-Nya. Marilah kita mohon, …
U. Dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi semua yang tidak mendapat perhatian dalam masyarakat: Semoga Bapa menerangi kita agar selalu dapat menghargai sifat-sifat dan amal baik mereka yang tidak mendapat perhatian masyarakat umum. Marilah kita mohon,………
U. Dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi kita
di sekitar altar ini: Semoga Bapa, menyadarkan kita agar berani mengakui
kelemahan-kelemahan kita serta menjauhkan diri dari kemunafikan dan
kesombongan. Marilah kita mohon,……………
U. Dengarkanlah umat-Mu.
P. Allah Bapa yang maharahim, dengan rendah hati kami akui, dan kami sesali dosa kesalahan kami. Tetapi justru karena kelemahan ini kami ingin saling membantu dalam kasih sayang demi perkembangan tubuh Kristus, Putra-Mu dan demi kemuliaan nama-Mu sepanjang masa.
U. Amin.
16. KOLEKTE
[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.
17. DOA PUJIAN
P : Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan selalu mendatangi kita dan menawarkan kita untuk kembali ke rumah-Nya. Ada banyak tempat di rumah Bapa kita. Kepada Tuhan yang mahabaik dan mahabelaskasih ini, kita pun berseru: Terpujilah Engkau di surga.
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Kami bersyukur kepadamu, ya Allah Bapa kami, sebab anak-anak-Mu yang terpisah-pisah jauh oleh kedurhakaan dosa, telah Engkau himpun kembali menjadi satu di hadapan-Mu, demi darah Putra-Mu dan kekuatan Roh Kudus. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa, dengan perantaraan Kristus, Engkau mencurahkan Roh Kudus atas segala bangsa, agar Ia tinggal dalam hati para Putera-Mu, dan dengan anugerah-Nya, Roh Kudus itu mempersatukan semua orang. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa, umat yang disatukan oleh kekuatan Tritunggal Kudus itu, Engkau kumpulkan dalam gereja, yakni tubuh Kristus dan kenisah Roh Kudus. Maka kami berseru:
U : Terpujilah Engkau di surga.
P : Maka, bersama seluruh umat beriman, dan dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru: [menyanyikan satu lagu bertemakan Puji Syukur] Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).
18A. Cara A: DENGAN KOMUNI
Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.
P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan.
[Hening sejenak]
19A. BAPA KAMI Berdiri
P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.
20A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI
Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: )
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanNya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.
(Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:)
P : Tubuh Kristus.
U : Amin. (Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.)
----------------------------------------------------------------------------------------------
18B. Cara B. TANPA KOMUNI
P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.
19B. BAPA KAMI --Berdiri
P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Dapat dilaksanakan Salam Damai.
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.
20B. DOA KOMUNI BATIN Berlutut/berdiri
Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan antara lain sebagai berikut:
P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.
P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]
P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurangkurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak]
P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:
P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.
▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.
▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu.
21. MENDOAKAN MAZMUR 34:2-11
P : Marilah kita bersama-sama, mendoakan Mazmur 34 untuk memuji keagungan Tuhan.
Yang membawakan Alkitab, kita buka Mazmur 34 dan kita doakan bersama-sama, dimulai dengan ayat 2, sampai ayat 11.
Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu Dan sepanjang segala abad, Amin.
22. AMANAT PENGUTUSAN
P : Setelah mendengarkan Sabda Tuhan, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak melihat penampilan atau banyaknya kata dalam doa, tetapi melihat hati yang rendah dan tulus. Kita diutus untuk pulang dan hidup seperti pemungut cukai dalam Injil hari ini, rendah hati, jujur, dan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup. Dalam keluarga, di ladang, di pasar, atau di lingkungan tempat kita tinggal, marilah kita menjadi pribadi yang tidak meninggikan diri, melainkan membawa damai, mengampuni, dan melayani dengan kasih.
Semoga Tuhan meneguhkan kita agar doa dan perbuatan kita lahir dari hati yang sederhana, sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan kasih dan kerahiman Allah.
23. DOA PENUTUP
P : Marilah kita berdoa:
Ya Allah, kami bersyukur atas kehadiran Putra-Mu yang menyediakan mahkota keselamatan bagi kami. Semoga kami bertekun untuk saling bekerja sama mewujudkan karya keselamatan-Mu terutama bagi sesama kami yang lemah, miskin, dan menderita. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami.
U. Amin.
24. MOHON BERKAT TUHAN DAN PENGUTUSAN
P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan. [hening sejenak]
P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri]
DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.
U : Amin.
P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.
P : Marilah pergi, kita diutus.
U : Amin.
25. LAGU PENUTUP
Komentar
Posting Komentar