Hari Raya Tritunggal Mahakudus Tahun A/II

 

Hari Raya Tritunggal Mahakudus Tahun A/II (Putih)

Minggu, 31 Mei 2026

Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin, untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan. Ketika memulai, Pemimpin/Prodiakon (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka.

Text Box: Tritunggal Mahakudus
Tritunggal Mahakudus adalah inti iman  Gereja Katolik bahwa Allah itu satu, tetapi hadir dalam tiga Pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
•	Allah Bapa adalah Pencipta yang mengasihi dan memelihara seluruh ciptaan.
•	Allah Putra (Yesus Kristus) adalah Sang Penyelamat yang datang ke dunia untuk menebus manusia.
•	Allah Roh Kudus adalah Penolong yang tinggal dalam hati umat beriman dan membimbing Gereja kepada kebenaran sepanjang zaman.
Meskipun ada tiga Pribadi, bukan berarti ada tiga Allah. Ketiganya adalah satu Allah yang sama, memiliki satu kodrat dan satu kasih yang sempurna.
Iman akan Tritunggal berakar kuat dalam Alkitab.
1. Yesus Memerintahkan Pembaptisan dalam Nama Tritunggal dalam Matius 28:19
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Yesus menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu nama yang sama. Ini menjadi dasar utama iman Gereja akan Tritunggal.
2. Peristiwa Baptisan Yesus dalam Matius 3:16-17
Ketika Yesus dibaptis:
§	Yesus (Putra) berada di Sungai Yordan, 
§	Roh Kudus turun seperti burung merpati, 
§	Suara Bapa terdengar dari surga: 
"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Dalam peristiwa ini tampak ketiga Pribadi Allah secara bersamaan.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


A. RITUS PEMBUKA

01. TANDA SALIB DAN SALAM

P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U : Amin.

P : Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

U : Sekarang dan selama-lamanya.

02. KATA PEMBUKA

P : Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan

Pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, yaitu misteri iman kita akan Allah yang satu dalam tiga Pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Meskipun tidak mudah dipahami sepenuhnya oleh akal manusia, misteri ini dinyatakan kepada kita melalui karya kasih Allah yang nyata dalam sejarah keselamatan.

Bacaan I dari Kitab Keluaran 34:4b-6.8-9 mengisahkan bagaimana Allah menyatakan diri kepada Musa sebagai Allah yang penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah bukanlah Pribadi yang jauh dari manusia, melainkan Allah yang hadir, mendampingi, dan mengampuni umat-Nya.

Dalam bacaan II dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 13:11-13, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristiani bertumbuh melalui kasih karunia Yesus Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk hidup dalam damai, persatuan, dan saling membangun satu sama lain.

Sementara itu, Injil Yohanes 3:16-18 hari ini mewartakan inti dari seluruh karya keselamatan Allah, yaitu bahwa Allah begitu mengasihi dunia sehingga mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal. Allah datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan.

Melalui ketiga bacaan hari ini, kita diajak menyadari bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang mengasihi, menyelamatkan, dan mempersatukan umat-Nya.

Maka dalam perayaan Ibadat Sabda ini, marilah kita membuka hati untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Semoga kasih Allah Tritunggal yang kita rayakan hari ini semakin memperteguh iman kita, dan melalui perantaraan Bunda Maria, kita dimampukan menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

03. TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN

P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan Sabda Tuhan, Terang dan Pedoman hidup kita.

U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.

P : [Dengan tangan terkatup] Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.

04. TUHAN KASIHANILAH KAMI (Kyrie)

(Dianjurkan untuk memakai Madah Kemuliaan di bawah ini.Bisa juga menyanyikan lagu kemulian dari buku Mada Bakti]

5. MADAH KEMULIAAN (Bisa dibacakan atau diayanyikan)

P : Kemuliaan kepada Allah di surga

U : dan damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya.

P : Kami memuji Dikau,

U : Kami meluhurkan Dikau.

P : Kami menyembah Dikau,

U : Kami memuliakan Dikau.

P : Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar.

U : Ya Tuhan Allah, raja surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.

P : Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera yang tunggal.

U : Ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Putera Bapa.

P : Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.

U : Engkau yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.

P : Engkau yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.

U : Karena hanya Engkaulah kudus.

P : Hanya Engkaulah Tuhan.

U : Hanya Engkaulah Mahatinggi, ya Yesus Kristus.

P : bersama dengan Roh Kudus,

U : dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin.

06. DOA PEMBUKA

P : Marilah kita berdoa,

[hening sejenak]  

P. Allah Bapa, dengan mengutus Sabda Kebenaran dan Roh Pengudus ke dalam dunia, Engkau telah mengungkapkan kepada manusia misteri-Mu yang mengagumkan. Semoga dengan iman yang benar kami mengakui kemuliaan Tritunggal yang kekal dan menyembah keesaan-Nya dalam keagungan kuasa-Nya. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa

U. Amin.

B. LITURGI SABDA

07. AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN

P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita. [Sebaiknya bacaan dibacakan dari Alkitab]

 

Sekilas Latar Belakang Kitab Keluaran

Kitab Keluaran merupakan kitab kedua dalam Alkitab dan termasuk dalam lima kitab Taurat (Pentateukh). Nama "Keluaran" berasal dari peristiwa utama yang diceritakan, yaitu keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menuju tanah yang dijanjikan Allah.

Kitab ini menunjukkan bagaimana Allah membebaskan umat-Nya, membentuk mereka menjadi bangsa pilihan, dan mengikat perjanjian dengan mereka di Gunung Sinai.

Kitab Keluaran mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang membebaskan, menyertai, dan membimbing umat-Nya. Ia mengundang manusia untuk hidup dalam kebebasan sejati melalui iman, ketaatan, dan kesetiaan kepada-Nya.

 

08. BACAAN I (Kel 34:4b-6.8-9)  -duduk-

"Tuhan, Tuhan Allah, Engkaulah pengasih dan murah hati."

L. Bacaan dari Kitab Keluaran:

Pada waktu itu Musa bangun pagi-pagi, dan naiklah ia ke atas Gunung Sinai, seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, dan membawa kedua loh batu di tangannya. Maka turunlah Tuhan dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa, dan Musa pun menyerukan nama Tuhan. Berjalanlah Tuhan lewat di depan Musa sambil berseru, “Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pe-ngasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!” Segera Musa berlutut ke tanah lalu sujud menyembah, serta berkata, “Jikalau aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami. Sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami. Ambillah kami menjadi milik-Mu.”

L. Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah.

09. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN/

LAGU ANTAR BACAAN -duduk-

(PS 835; Dan 3:52-56) -duduk-



 

Kidung:

1. Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mu lah pujian selama segala abad.
2. Terpujilah Engkau dalam bait-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu. Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
3. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah Engkau di bentangan langit. Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

Sekilas Latar Belakang Surat 1 dan 2 Rasul Paulus Kepada Jemaat di Korintus

Surat 1 dan 2 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus pada 54 -56 Masehi

untuk menguatkan umat Kristen di Korintus yang sedang mengalami kesulitan dan banyak masalah, seperti Perpecahan dalam jemaat, Perselisihan dan iri hati, Dosa percabulan dan Masalah perkawinan.

Surat-surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa:

  • Gereja dapat memiliki banyak kelemahan, tetapi tetap dipanggil untuk bertumbuh dalam Kristus.
  • Karunia dan pengetahuan tanpa kasih tidak berarti.
  • Allah tetap bekerja melalui manusia yang lemah.
  • Persatuan dan kekudusan sangat penting dalam kehidupan jemaat.

 

 

10. BACAAN II  (2Kor 13:11-13) -duduk-

   "Kasih karunia Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus."

 L.  Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Hendaklah kamu sehati sepikir, dan hiduplah dalam damai sejahtera. Maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera, akan menyertai kamu! Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

L. Demikianlah sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

11. ALLELUIA  -berdiri-

Solis: 

(PS 964; Why 1:8) -berdiri-

 

 

Sekilas Latar Belakang Injil Yohanes

Injil Yohanes adalah salah satu dari empat Injil dalam Perjanjian Baru, tetapi memiliki gaya dan penekanan yang cukup berbeda dari Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas).

Penulis dan waktu penulisan

Secara tradisi, Injil ini ditulis oleh Yohanes, salah satu murid/Rasul Yesus Kristus. Waktu penulisannya diperkirakan sekitar tahun 90–100 M, menjadikannya Injil yang paling akhir ditulis.

Tujuan utama Injil Yohanes dinyatakan secara jelas: supaya pembacanya percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, dan oleh iman memperoleh hidup (lihat Yohanes 20:31).

 

12. INJIL (Yoh 3:16-18) -berdiri-

P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut

St. Yohanes

 (Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.)

P. Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam Anak tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang yang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."

P. Demikianlah Sabda Tuhan

U. Terpujilah Kristus.

13. RENUNGAN SINGKAT

Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan

Ketika berbicara tentang Tritunggal Mahakudus, sering kali kita merasa bingung. Bagaimana mungkin Allah itu satu, tetapi Bapa, Putra, dan Roh Kudus? Misteri ini memang melampaui akal manusia. Namun, Tuhan tidak meminta kita untuk memahami-Nya secara sempurna. Tuhan mengajak kita untuk mengalami kasih-Nya.

Dalam bacaan pertama, Musa berjumpa dengan Allah yang memperkenalkan diri sebagai Allah yang penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang jauh dan menakutkan, melainkan Allah yang dekat, yang memahami kelemahan manusia dan selalu membuka kesempatan untuk bertobat.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup umat beriman harus diwarnai oleh kasih karunia Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus. Artinya, semakin dekat kita dengan Allah, semakin kita dipanggil untuk hidup dalam damai, persatuan, dan saling mengasihi.

Kemudian dalam Injil, Yesus menyampaikan kabar yang sangat indah: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal." Allah tidak tinggal diam melihat manusia jatuh dalam dosa. Karena kasih-Nya, Ia datang mencari dan menyelamatkan kita.

Saudara-saudari,

Ada sebuah kisah yang sering diceritakan dalam tradisi Gereja. Santo Agustinus, seorang Bapa Gereja yang terkenal, pernah berjalan di tepi pantai sambil memikirkan misteri Tritunggal. Ia ingin memahami bagaimana Allah yang satu dapat hadir dalam tiga Pribadi.

Di pantai itu ia melihat seorang anak kecil yang sedang mengambil air laut dengan sebuah kerang, lalu menuangkannya ke dalam lubang kecil di pasir.

Agustinus bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?"

Anak itu menjawab, "Saya ingin memindahkan seluruh air laut ke dalam lubang ini."

Agustinus tersenyum dan berkata, "Itu tidak mungkin. Laut terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam lubang kecil."

Lalu anak itu menjawab, "Begitu juga engkau. Misteri Allah yang tak terbatas tidak akan pernah sepenuhnya masuk ke dalam pikiran manusia yang terbatas."

Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah selalu lebih besar daripada pemahaman kita. Namun meskipun kita tidak dapat memahami-Nya sepenuhnya, kita dapat mengenal-Nya melalui kasih yang Ia tunjukkan kepada kita.

Kasih itulah yang menjadi inti Tritunggal Mahakudus. Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih mereka adalah Roh Kudus. Allah hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna.

Karena itu, ketika kita membuat Tanda Salib dan mengucapkan, "Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus," kita tidak hanya mengawali doa. Kita mengingat bahwa hidup kita berasal dari kasih Allah dan harus menjadi tanda kasih bagi sesama.

Hari ini kita juga menutup Bulan Maria. Selama bulan Mei, kita banyak berdoa Rosario dan menghormati Bunda Maria. Maria adalah contoh nyata seorang yang hidup dalam kasih Allah Tritunggal. Ia mendengarkan kehendak Bapa, melahirkan Sang Putra, dan menaati bimbingan Roh Kudus. Karena itu Maria dapat menjadi murid yang setia dan ibu yang penuh kasih.

Penutupan Bulan Maria hendaknya bukan berarti berakhirnya devosi kita kepada Maria. Justru setelah bulan ini berakhir, kita diajak membawa semangat Maria ke dalam kehidupan sehari-hari: lebih tekun berdoa, lebih mudah mengampuni, lebih peduli kepada sesama, dan lebih setia mengikuti Tuhan.

Marilah kita pulang dari perayaan ini dengan satu keyakinan: Allah Tritunggal adalah Allah yang mengasihi kita. Dan jika Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, maka tugas kita adalah menghadirkan kasih itu dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Semoga melalui teladan Bunda Maria, kita semakin dekat dengan Yesus dan semakin terbuka pada karya Roh Kudus, sehingga hidup kita menjadi kemuliaan bagi Allah Bapa.

 

14. HENING SEJENAK

15. SYAHADAT

P : Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..

16. DOA UMAT

P. Marilah kita berdoa kepada Bapa di surga dengan pengantaraan Yesus, Putra-Nya, dalam persatuan Roh Kudus:

L. Bagi Gereja-gereja Kristus: Semoga Bapa, mengutus Roh-Nya kepada umat yang mengimani Tritunggal yang mahakudus, agar mereka merupakan tanda persatuan cinta kasih Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Marilah kita mohon, ….

U. Dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi Nusa dan Bangsa: Semoga Bapa, membimbing agar Nusa dan Bangsa kita yang mengimani Dikau sebagai Allah yang mahaesa, Kauberkati dalam membangun negara yang adil dan makmur merata. Marilah kita mohon, …

U. Dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi yang miskin dan terlantar: Semoga Bapa, menerangi agar kita dapat menimba dari iman kepercayaan kita kekuatan batin, sehingga sanggup memerhatikan kepentingan mereka yang miskin dan terlantar. Marilah kita mohon, …

U. Dengarkanlah umat-Mu.

L. Bagi paroki kita: Semoga Bapa, membimbing umat di paroki kita membina persaudaraan dan persatuan dalam iman, sehingga makin banyak orang yang tertarik untuk mengenal dan bersatu dengan Dikau. Marilah kita mohon, …

Umat. Dengarkanlah umat-Mu.

L. Dalam keheningan ini, marilah kita mempersembahkan doa-doa pribadi kita kepada Tuhan. (hening sejenak) Marilah kita mohon:

Umat: Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

P. Allah Bapa yang maharahim, dengarkanlah doa-doa kami dengan perantaraan Kristus, Putra-Mu. Dalam diri Kristus Engkau mendekati kami. Semoga berkat dorongan Roh Kudus kami menjadi Gereja yang giat dan bersemangat. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

U. Amin.     

17. KOLEKTE

[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.

18. DOA PUJIAN

P : Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan selalu mendatangi kita dan menawarkan kita untuk kembali ke rumah-Nya. Ada banyak tempat di rumah Bapa kita. Kepada Tuhan yang mahabaik dan mahabelaskasih ini, kita pun berseru: Terpujilah Engkau di surga.

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Kami bersyukur kepadamu, ya Allah Bapa kami, sebab anak-anak-Mu yang terpisah-pisah jauh oleh kedurhakaan dosa, telah Engkau himpun kembali menjadi satu di hadapan-Mu, demi darah Putra-Mu dan kekuatan Roh Kudus. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Ya Bapa, dengan perantaraan Kristus, Engkau mencurahkan Roh Kudus atas segala bangsa, agar Ia tinggal dalam hati para Putera-Mu, dan dengan anugerah-Nya, Roh Kudus itu mempersatukan semua orang. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Ya Bapa, umat yang disatukan oleh kekuatan Tritunggal Kudus itu, Engkau kumpulkan dalam gereja, yakni tubuh Kristus dan kenisah Roh Kudus. Maka kami berseru:

U : Terpujilah Engkau di surga.

P : Maka, bersama seluruh umat beriman, dan dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Leo ke-14 dan Bapa Uskup kami Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru: [menyanyikan satu lagu kudus atau bertemakan Puji Syukur] Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).

19A. Cara A: DENGAN KOMUNI

Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.

P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan.

[Hening sejenak]

20A. BAPA KAMI Berdiri

P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.

U: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.

21A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI

Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:

P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: )

P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanNya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.

U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.

(Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:)

 P : Tubuh Kristus.

U : Amin. (Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.)

----------------------------------------------------------------------------------------------

19B. Cara B. TANPA KOMUNI

P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.

20B. BAPA KAMI --Berdiri

P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.

U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Dapat dilaksanakan Salam Damai.

P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.

21B. DOA KOMUNI BATIN Berlutut/berdiri

Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan antara lain sebagai berikut:

P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.

P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]

P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurangkurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak]

P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:

P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.

▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.

▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu.

22. PENGUMUMAN

23. AMANAT PENGUTUSAN

P : Seperti dua murid di jalan Emaus yang kembali dengan penuh semangat untuk bersaksi, kita pun diutus untuk membawa kabar sukacita kebangkitan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan yang bangkit selalu berjalan bersama kita, menguatkan dan menuntun langkah kita. Marilah kita pergi membawa harapan bagi yang putus asa, menghadirkan damai bagi yang gelisah, dan menjadi saksi kasih Tuhan melalui perkataan dan tindakan kita. Semoga hati kita tetap berkobar oleh Sabda Tuhan, dan kita semakin berani menjadi saksi Kristus yang bangkit di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat kita.

24. DOA PENUTUP

P : Marilah kita berdoa:

Ya Allah, kami mohon, pandanglah kami umat-Mu; Engkau sudah berkenan membarui kami dengan sakramen hidup kekal. Semoga Engkau menyertai kami sampai kami memperoleh kemuliaan kebangkitan badan yang tidak akan binasa. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa.

U. Amin. 

25. MOHON BERKAT TUHAN DAN PENGUTUSAN

 P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan. [hening sejenak]

 P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri]

DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.

U : Amin.

P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai. Haleluya

U : Syukur kepada Allah. Haleluya

P : Marilah pergi, kita diutus.

U : Amin.

26. LAGU PENUTUP

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAT SABDA HARI MINGU BIASA XXV Tahun C (Minggu, 21 September 2025)

Ibadat Sabda Minggu, 09 November 2025

Ibadat Sabda HARI MINGU BIASA XXVIII, 12 Oktober 2025