Hari Raya Tritunggal Mahakudus Tahun A/II
Hari
Raya Tritunggal Mahakudus Tahun A/II (Putih)
Minggu,
31 Mei 2026
Para
Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk
nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian. Sedapat mungkin, untuk kekhusukan
suasana, alat-alat komunikasi dimatikan. Ketika memulai, Pemimpin/Prodiakon (P)
berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang
menjadikan langit dan bumi”. Kemudian dinyanyikan lagu pembuka.

A.
RITUS PEMBUKA
01. TANDA
SALIB DAN SALAM
P : Dalam
nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih
karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus
beserta kita.
U : Sekarang
dan selama-lamanya.
02. KATA
PEMBUKA
P : Bapa-ibu, saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang
dikasihi dan diberkati Tuhan
Pada hari ini Gereja merayakan Hari
Raya Tritunggal Mahakudus, yaitu misteri iman kita akan Allah yang satu dalam
tiga Pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Meskipun tidak mudah dipahami
sepenuhnya oleh akal manusia, misteri ini dinyatakan kepada kita melalui karya
kasih Allah yang nyata dalam sejarah keselamatan.
Bacaan I dari Kitab Keluaran 34:4b-6.8-9 mengisahkan
bagaimana Allah menyatakan diri kepada Musa sebagai Allah yang penyayang,
pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah bukanlah Pribadi yang
jauh dari manusia, melainkan Allah yang hadir, mendampingi, dan mengampuni
umat-Nya.
Dalam bacaan II dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 13:11-13, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kehidupan
Kristiani bertumbuh melalui kasih karunia Yesus Kristus, kasih Allah Bapa, dan
persekutuan Roh Kudus. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk hidup
dalam damai, persatuan, dan saling membangun satu sama lain.
Sementara itu, Injil Yohanes 3:16-18 hari ini
mewartakan inti dari seluruh karya keselamatan Allah, yaitu bahwa Allah begitu
mengasihi dunia sehingga mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal. Allah datang bukan
untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan.
Melalui ketiga bacaan hari ini, kita
diajak menyadari bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang mengasihi,
menyelamatkan, dan mempersatukan umat-Nya.
Maka dalam perayaan Ibadat Sabda
ini, marilah kita membuka hati untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Semoga kasih
Allah Tritunggal yang kita rayakan hari ini semakin memperteguh iman kita, dan
melalui perantaraan Bunda Maria, kita dimampukan menjadi saksi kasih Allah di
tengah dunia.
03. TOBAT
DAN PERMOHONAN AMPUN
P : Marilah
menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan
Sabda Tuhan, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya
mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya
telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon
kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada
saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
P : [Dengan tangan terkatup] Semoga Allah yang
Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup
yang kekal.
04. TUHAN
KASIHANILAH KAMI (Kyrie)
(Dianjurkan untuk memakai Madah Kemuliaan di bawah ini.Bisa
juga menyanyikan lagu kemulian dari buku Mada Bakti]
5. MADAH
KEMULIAAN
(Bisa dibacakan atau diayanyikan)
P :
Kemuliaan kepada Allah di surga
U : dan
damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya.
P : Kami
memuji Dikau,
U : Kami
meluhurkan Dikau.
P : Kami
menyembah Dikau,
U : Kami
memuliakan Dikau.
P : Kami
bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar.
U : Ya Tuhan
Allah, raja surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.
P : Ya Tuhan
Yesus Kristus, Putera yang tunggal.
U : Ya Tuhan
Allah, Anak Domba Allah, Putera Bapa.
P : Engkau
yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
U : Engkau
yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
P : Engkau
yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.
U : Karena
hanya Engkaulah kudus.
P : Hanya
Engkaulah Tuhan.
U : Hanya
Engkaulah Mahatinggi, ya Yesus Kristus.
P : bersama
dengan Roh Kudus,
U : dalam
kemuliaan Allah Bapa. Amin.
06. DOA
PEMBUKA
P : Marilah
kita berdoa,
[hening sejenak]
P. Allah
Bapa, dengan mengutus Sabda Kebenaran dan Roh Pengudus ke dalam dunia, Engkau
telah mengungkapkan kepada manusia misteri-Mu yang mengagumkan. Semoga dengan
iman yang benar kami mengakui kemuliaan Tritunggal yang kekal dan menyembah
keesaan-Nya dalam keagungan kuasa-Nya. Dengan pengantaraan Tuhan kami,
Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan
Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa
U. Amin.
B.
LITURGI SABDA
07. AJAKAN
MENDENGARKAN SABDA TUHAN
P : Marilah
kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar
Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita. [Sebaiknya
bacaan dibacakan dari Alkitab]
|
Sekilas Latar Belakang Kitab Keluaran Kitab Keluaran merupakan kitab
kedua dalam Alkitab dan termasuk dalam lima kitab Taurat (Pentateukh). Nama
"Keluaran" berasal dari peristiwa utama yang diceritakan, yaitu keluarnya
bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menuju tanah yang dijanjikan Allah. Kitab ini menunjukkan bagaimana
Allah membebaskan umat-Nya, membentuk mereka menjadi bangsa pilihan, dan
mengikat perjanjian dengan mereka di Gunung Sinai. Kitab Keluaran mengajarkan bahwa
Allah adalah Allah yang membebaskan, menyertai, dan membimbing umat-Nya. Ia
mengundang manusia untuk hidup dalam kebebasan sejati melalui iman, ketaatan,
dan kesetiaan kepada-Nya. |
08.
BACAAN I (Kel 34:4b-6.8-9)
-duduk-
"Tuhan,
Tuhan Allah, Engkaulah pengasih dan murah hati."
L. Bacaan dari Kitab Keluaran:
Pada waktu itu Musa bangun
pagi-pagi, dan naiklah ia ke atas Gunung Sinai, seperti yang diperintahkan
Tuhan kepadanya, dan membawa kedua loh batu di tangannya. Maka turunlah Tuhan
dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa, dan Musa pun menyerukan nama Tuhan.
Berjalanlah Tuhan lewat di depan Musa sambil berseru, “Tuhan adalah Allah yang
penyayang dan pe-ngasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!” Segera
Musa berlutut ke tanah lalu sujud menyembah, serta berkata, “Jikalau aku telah
mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di
tengah-tengah kami. Sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk,
tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami. Ambillah kami menjadi milik-Mu.”
L. Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur
kepada Allah.
09.
MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN/
LAGU ANTAR
BACAAN -duduk-
(PS 835; Dan
3:52-56) -duduk-
Kidung:
1. Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami. Kepada-Mulah pujian
selama segala abad. Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mu lah
pujian selama segala abad.
2. Terpujilah Engkau dalam bait-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mulah pujian
selama segala abad. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu. Kepada-Mulah
pujian selama segala abad.
3. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya. Kepada-Mulah pujian selama
segala abad. Terpujilah Engkau di bentangan langit. Kepada-Mulah pujian selama
segala abad.
|
Sekilas Latar Belakang Surat 1 dan
2 Rasul Paulus Kepada Jemaat di Korintus Surat 1 dan 2 Korintus ditulis
oleh Rasul Paulus pada 54 -56 Masehi untuk menguatkan umat Kristen di
Korintus yang sedang mengalami kesulitan dan banyak masalah, seperti Perpecahan
dalam jemaat, Perselisihan dan iri hati, Dosa percabulan dan Masalah
perkawinan. Surat-surat kepada jemaat Korintus
mengajarkan bahwa:
|
10.
BACAAN II (2Kor 13:11-13) -duduk-
"Kasih
karunia Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus."
L.
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:
Saudara-saudaraku, bersukacitalah,
usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Hendaklah kamu
sehati sepikir, dan hiduplah dalam damai sejahtera. Maka Allah, sumber kasih
dan damai sejahtera, akan menyertai kamu! Berilah salam seorang kepada yang
lain dengan cium yang kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu. Kasih
karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai
kamu sekalian.
L. Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur
kepada Allah
11. ALLELUIA -berdiri-
Solis:
(PS 964; Why
1:8) -berdiri-
|
Sekilas
Latar Belakang Injil Yohanes Injil
Yohanes adalah salah satu dari empat Injil dalam Perjanjian Baru, tetapi
memiliki gaya dan penekanan yang cukup berbeda dari Injil sinoptik (Matius,
Markus, Lukas). Penulis
dan waktu penulisan Secara
tradisi, Injil ini ditulis oleh Yohanes, salah satu murid/Rasul Yesus
Kristus. Waktu penulisannya diperkirakan sekitar tahun 90–100 M, menjadikannya
Injil yang paling akhir ditulis. Tujuan
utama Injil Yohanes dinyatakan secara jelas: supaya pembacanya percaya bahwa
Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, dan oleh iman memperoleh hidup (lihat
Yohanes 20:31). |
12. INJIL (Yoh
3:16-18) -berdiri-
P : Marilah
kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut
St. Yohanes
(Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu
jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.)
P. Dalam
percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, "Begitu besar kasih Allah
akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi
dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia
tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah
hukuman, sebab ia tidak percaya dalam Anak tunggal Allah. Dan inilah hukuman
itu: Terang yang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai
kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."
P.
Demikianlah Sabda Tuhan
U.
Terpujilah Kristus.
13. RENUNGAN
SINGKAT
Bapa-ibu,
saudara/I, orang-orang muda dan anak-anak yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Ketika
berbicara tentang Tritunggal Mahakudus, sering kali kita merasa bingung.
Bagaimana mungkin Allah itu satu, tetapi Bapa, Putra, dan Roh Kudus? Misteri
ini memang melampaui akal manusia. Namun, Tuhan tidak meminta kita untuk
memahami-Nya secara sempurna. Tuhan mengajak kita untuk mengalami kasih-Nya.
Dalam bacaan
pertama, Musa berjumpa dengan Allah yang memperkenalkan diri sebagai Allah yang
penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah yang kita
sembah bukanlah Allah yang jauh dan menakutkan, melainkan Allah yang dekat,
yang memahami kelemahan manusia dan selalu membuka kesempatan untuk bertobat.
Dalam bacaan
kedua, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup umat beriman harus diwarnai oleh
kasih karunia Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus. Artinya,
semakin dekat kita dengan Allah, semakin kita dipanggil untuk hidup dalam
damai, persatuan, dan saling mengasihi.
Kemudian
dalam Injil, Yesus menyampaikan kabar yang sangat indah: "Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal." Allah tidak tinggal diam melihat manusia jatuh dalam dosa.
Karena kasih-Nya, Ia datang mencari dan menyelamatkan kita.
Saudara-saudari,
Ada sebuah
kisah yang sering diceritakan dalam tradisi Gereja. Santo Agustinus, seorang
Bapa Gereja yang terkenal, pernah berjalan di tepi pantai sambil memikirkan
misteri Tritunggal. Ia ingin memahami bagaimana Allah yang satu dapat hadir
dalam tiga Pribadi.
Di pantai
itu ia melihat seorang anak kecil yang sedang mengambil air laut dengan sebuah
kerang, lalu menuangkannya ke dalam lubang kecil di pasir.
Agustinus
bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?"
Anak itu
menjawab, "Saya ingin memindahkan seluruh air laut ke dalam lubang
ini."
Agustinus
tersenyum dan berkata, "Itu tidak mungkin. Laut terlalu besar untuk
dimasukkan ke dalam lubang kecil."
Lalu anak
itu menjawab, "Begitu juga engkau. Misteri Allah yang tak terbatas tidak
akan pernah sepenuhnya masuk ke dalam pikiran manusia yang terbatas."
Kisah ini
mengingatkan kita bahwa Allah selalu lebih besar daripada pemahaman kita. Namun
meskipun kita tidak dapat memahami-Nya sepenuhnya, kita dapat mengenal-Nya
melalui kasih yang Ia tunjukkan kepada kita.
Kasih itulah
yang menjadi inti Tritunggal Mahakudus. Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi
Bapa, dan kasih mereka adalah Roh Kudus. Allah hidup dalam persekutuan kasih
yang sempurna.
Karena itu,
ketika kita membuat Tanda Salib dan mengucapkan, "Dalam nama Bapa dan
Putra dan Roh Kudus," kita tidak hanya mengawali doa. Kita mengingat bahwa
hidup kita berasal dari kasih Allah dan harus menjadi tanda kasih bagi sesama.
Hari ini
kita juga menutup Bulan Maria. Selama bulan Mei, kita banyak berdoa Rosario dan
menghormati Bunda Maria. Maria adalah contoh nyata seorang yang hidup dalam
kasih Allah Tritunggal. Ia mendengarkan kehendak Bapa, melahirkan Sang Putra,
dan menaati bimbingan Roh Kudus. Karena itu Maria dapat menjadi murid yang
setia dan ibu yang penuh kasih.
Penutupan
Bulan Maria hendaknya bukan berarti berakhirnya devosi kita kepada Maria.
Justru setelah bulan ini berakhir, kita diajak membawa semangat Maria ke dalam
kehidupan sehari-hari: lebih tekun berdoa, lebih mudah mengampuni, lebih peduli
kepada sesama, dan lebih setia mengikuti Tuhan.
Marilah kita
pulang dari perayaan ini dengan satu keyakinan: Allah Tritunggal adalah Allah
yang mengasihi kita. Dan jika Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, maka
tugas kita adalah menghadirkan kasih itu dalam keluarga, lingkungan, dan
masyarakat.
Semoga
melalui teladan Bunda Maria, kita semakin dekat dengan Yesus dan semakin
terbuka pada karya Roh Kudus, sehingga hidup kita menjadi kemuliaan bagi Allah
Bapa.
14. HENING
SEJENAK
15. SYAHADAT
P : Marilah menanggapi
Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan
mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..
16. DOA UMAT
P. Marilah kita
berdoa kepada Bapa di surga dengan pengantaraan Yesus, Putra-Nya, dalam
persatuan Roh Kudus:
L. Bagi
Gereja-gereja Kristus: Semoga Bapa, mengutus Roh-Nya kepada umat yang mengimani
Tritunggal yang mahakudus, agar mereka merupakan tanda persatuan cinta kasih
Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Marilah kita mohon, ….
U. Dengarkanlah
umat-Mu.
L. Bagi Nusa
dan Bangsa: Semoga Bapa, membimbing agar Nusa dan Bangsa kita yang mengimani
Dikau sebagai Allah yang mahaesa, Kauberkati dalam membangun negara yang adil
dan makmur merata. Marilah kita mohon, …
U.
Dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi yang
miskin dan terlantar: Semoga Bapa, menerangi agar kita dapat menimba dari iman
kepercayaan kita kekuatan batin, sehingga sanggup memerhatikan kepentingan
mereka yang miskin dan terlantar. Marilah kita mohon, …
U.
Dengarkanlah umat-Mu.
L. Bagi
paroki kita: Semoga Bapa, membimbing umat di paroki kita membina persaudaraan
dan persatuan dalam iman, sehingga makin banyak orang yang tertarik untuk
mengenal dan bersatu dengan Dikau. Marilah kita mohon, …
Umat.
Dengarkanlah umat-Mu.
L. Dalam
keheningan ini, marilah kita mempersembahkan doa-doa pribadi kita kepada Tuhan.
(hening sejenak) Marilah kita mohon:
Umat: Tuhan,
dengarkanlah umat-Mu.
P. Allah Bapa
yang maharahim, dengarkanlah doa-doa kami dengan perantaraan Kristus, Putra-Mu.
Dalam diri Kristus Engkau mendekati kami. Semoga berkat dorongan Roh Kudus kami
menjadi Gereja yang giat dan bersemangat. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan
kami.
U. Amin.
17. KOLEKTE
[Selanjutnya
ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada
sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu
dihantar dan diletakkan di depan mimbar diiringi lagu persembahan yang bernada
Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.
18. DOA
PUJIAN
P :
Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan selalu mendatangi kita dan menawarkan kita
untuk kembali ke rumah-Nya. Ada banyak tempat di rumah Bapa kita. Kepada Tuhan
yang mahabaik dan mahabelaskasih ini, kita pun berseru: Terpujilah Engkau di
surga.
U :
Terpujilah Engkau di surga.
P : Kami
bersyukur kepadamu, ya Allah Bapa kami, sebab anak-anak-Mu yang terpisah-pisah
jauh oleh kedurhakaan dosa, telah Engkau himpun kembali menjadi satu di
hadapan-Mu, demi darah Putra-Mu dan kekuatan Roh Kudus. Maka kami berseru:
U :
Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa,
dengan perantaraan Kristus, Engkau mencurahkan Roh Kudus atas segala bangsa,
agar Ia tinggal dalam hati para Putera-Mu, dan dengan anugerah-Nya, Roh Kudus
itu mempersatukan semua orang. Maka kami berseru:
U :
Terpujilah Engkau di surga.
P : Ya Bapa,
umat yang disatukan oleh kekuatan Tritunggal Kudus itu, Engkau kumpulkan dalam
gereja, yakni tubuh Kristus dan kenisah Roh Kudus. Maka kami berseru:
U :
Terpujilah Engkau di surga.
P : Maka,
bersama seluruh umat beriman, dan dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Leo
ke-14 dan Bapa Uskup kami Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, kami melambungkan
madah pujian bagi-Mu dengan berseru: [menyanyikan
satu lagu kudus atau bertemakan Puji Syukur]
Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1)
menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak
menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).
19A. Cara A:
DENGAN KOMUNI
Sesudah
Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia
membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen
Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah
mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar
bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan
sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami
sambil berdiri.
P :
Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita
memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan
saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati
di hadirat Tuhan.
[Hening
sejenak]
20A. BAPA
KAMI Berdiri
P : Atas
petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U: Bapa kami
yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah
kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari
ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah
kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah
kami dari yang jahat. Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.
21A. SALAM
DAMAI DAN KOMUNI
Bila
ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:
P : Marilah
kita saling memberikan salam damai.
(Umat
memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah
Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu
menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: )
P : Inilah
Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Hosti
dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke
perjamuanNya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.
U : Ya Tuhan
saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya
akan sembuh.
(Dengan
khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani
umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:)
P :
Tubuh Kristus.
U : Amin. (Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.)
----------------------------------------------------------------------------------------------
19B. Cara B.
TANPA KOMUNI
P : Pada
perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita
menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.
20B. BAPA
KAMI
--Berdiri
P :
Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka
sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana
yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa
kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah
kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari
ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah
kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah
kami dari yang jahat.
Dapat
dilaksanakan Salam Damai.
P : Marilah
kita saling memberikan salam damai.
Umat
memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.
21B. DOA
KOMUNI BATIN
Berlutut/berdiri
Pemimpin
mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan
antara lain sebagai berikut:
P : Kini,
mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati
kita.
P : Yesus
bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan
kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting
tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok
anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam
Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]
P : Yesusku,
aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu
lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku.
Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah
sekurangkurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah
datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan
biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening
sejenak]
P : Dalam
keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir
saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan
mengatakan:
P : Yesus,
datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U : Yesus,
datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
▪
Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga
kali.
▪
Lalu diberi saat hening secukupnya.
▪
Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu.
22.
PENGUMUMAN
23. AMANAT
PENGUTUSAN
P : Seperti dua murid di jalan Emaus
yang kembali dengan penuh semangat untuk bersaksi, kita pun diutus untuk
membawa kabar sukacita kebangkitan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tuhan yang bangkit selalu berjalan bersama kita, menguatkan dan menuntun
langkah kita. Marilah kita pergi membawa harapan bagi yang putus asa,
menghadirkan damai bagi yang gelisah, dan menjadi saksi kasih Tuhan melalui
perkataan dan tindakan kita. Semoga hati kita tetap berkobar oleh Sabda Tuhan,
dan kita semakin berani menjadi saksi Kristus yang bangkit di tengah keluarga,
lingkungan, dan masyarakat kita.
24. DOA PENUTUP
P : Marilah
kita berdoa:
Ya Allah,
kami mohon, pandanglah kami umat-Mu; Engkau sudah berkenan membarui kami dengan
sakramen hidup kekal. Semoga Engkau menyertai kami sampai kami memperoleh
kemuliaan kebangkitan badan yang tidak akan binasa. Dengan pengantaraan
Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa.
U.
Amin.
25. MOHON
BERKAT TUHAN DAN PENGUTUSAN
P :
Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat
Tuhan. [hening sejenak]
P :
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita
ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada
diri sendiri]
DALAM
NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.
U : Amin.
P : Perayaan
Sabda kita ini sudah selesai. Haleluya
U : Syukur
kepada Allah. Haleluya
P : Marilah
pergi, kita diutus.
U : Amin.
26. LAGU
PENUTUP
Komentar
Posting Komentar